TEKNIK PENGENDALIAN GULMA SECARA KIMIAWI
KALIBRASI SPRAYER
( Laporan Praktikum Ilmu dan Teknik Pengendalian Gulma)
Oleh
Kelompok 3
Kelas C
Aldita Dwi Astuti 0814013085
Miandri Sabli Pratama 1014121133
Novri Dwi Damayanti 1014121142
Sucipto 1014121176
Tety Maryenti 1014121179
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persaingan antara gulma dengan tanaman yang di budidayakan dalam mengambil unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu diperlukan pengendalian gulma secara efektif dan efisien. Banyak cara dilakukan untuk pengendalian salah satunya secara kimiawi dengan penggunaan herbisida. Pengendalian gulma secara kimiawi menguntungkan karena cepat dan efektif, terutama untuk areal yang luas.
Keberhasilan aplikasi herbisida ditentukan oleh beberapa hal antara lain gulma sasaran, jenis herbisida, dosis, dan cara aplikasinya. Selain itu faktor lain yang sangat menentukan keberhasilan suatu aplikasi herbisida adalah cuaca, alat yang digunakan dan orang yang mengaplikasikan herbisida tersebut. Kesalahan atau kekeliruan terbesar pada saat aplikasi herbisida berkaitan dengan kalibrasi alat semprot. Kalibrasi alat dilakukan terlebih dahulu pada kondisi sprayer masih baru, sprayer sudah lama tidak digunakan, ada penggantian bagian sprayer serta penggantian operator yang menjalankan. Hal – hal yang harus diperhatikan saat melakukan kalibrasi meliputi kecepatan jalan dan tekanan dalam tangki harus konstan, alat dan operator serta lahan yang digunakan harus sama pada saat aplikasi dan kalibrasi. Apabila hal hal tersebut sudah dilaksanakan dengan baik maka aplikasi herbisida juga dilapangan diharapkan dapat baik pula. Ada dua metode praktis yang mudah diterapkan dalam melakukan kalibrasi alat semprot yaitu metode luas (untuk menentukan volume semprot ) dan metode waktu ( untuk menentukan kecepatan jalan operator ).
B. Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini, antara lain :
1. Agar mahasiswa dapat melakukan kalibrasi sprayer .
2. Agar mahasiswa mengetahui tujuan melakukan kalibrasi
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan pada saat melakukan kalibrasi.
4. Agar mahasiswa mengetahui metode yang diterapkan dalam melakukan kalibrasi sprayer.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Keberhasilan penggunaan pestisida sangat ditentukan oleh aplikasi yang tepat, untuk menjamin pestisida tersebut mencapai sasaran yang dimaksud, selain factor jenis dosis, dan saat aplikasi yang tepat. Dengan kata lain tidak ada pestisida yang dapat berfungsi dengan baik kecuali bila diaplikasikan dengan tepat. Aplikasi pestisida yang tepat dapat didefinisikan sebagai aplikasi pestisida yang semaksimal mungkin terhadap sasaran yang ditentukan pada saat yang tepat, dengan liputan hasil semprotan yang merata dari jumlah pestisida yang telah ditentukan sesuai dengan anjuran dosis. Adapun cara pemakaian pestisida yang sering dilakukan oleh petani, salah satunya adalah dengan penyemprotan (Spraying). Cara ini merupakan metode yang paling banyak digunakan (Wudianto,1999).
Kalibrasi adalah menghitung/mengukur kebutuhan air suatu alat semprot untuk luasan areal tertentu. Kalibrasi harus dilakukan pada setiap kali akan melakukan penyemprotan yang gunanya adalah:
• Menghindari pemborosan herbisida
• Memperkecil terjadinya keracunan pada tanaman akibat penumpukan herbisida
• Memperkecil pencemaran lingkungan (Yakup, 1991).
Semua alat yang digunakan untuk mengaplikasikan herbisida denga n cara penyemprotan disebut dengan alat semprot atau sprayer. Adapun bentuk dan mekanisme kerjanya sprayer berfungsi untuk mengubah atau memecah larutan semprot yang dilakukan oleh noozle, menjadi bagian – bagian atau butiran – butiran yang sangat halus (droplet). Menurut sumber tenaga yang digunakan untuk menggerakkan atau menjalankan sprayer tersebut, sprayer dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu sprayer manual dan sprayer tenaga mesin. Dalam melakukan kalibrasi hal yang diperhatikan adalah kecepatan jalan harus konstan, tekanan semprot sprayer tetap, ukuran/tipe nozzel, ketinggian nozzel di atas permukaan tanah (Djojosumarto, 2008).
III. BAHAN DAN METODE
A. Alat dan bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktukum ini, antara lain alat semprot, nosel, meteran, ember, gelas ukur, tangki sprayer dan air.
B. Metode kerja
Adapun metode kerja yang dilakukan dalam praktikum ini, antara lain :
1. Metode luas
• Mempersiapkan alat semprot dan nosel yang akan digunakan.
• Menentukan luas petak contoh pada areal yang akan disemprot dengan ukuran 2 m x 10 m ( 20 m2 ) .
• Memasukkan air ke dalam tangki sprayer sebanyak 1 liter lalu memompanya .
• Menyemprotkan secara merata pada petak contoh.
• Mengukur sisa air dalam tangki setelah dilakukan penyemprotan.
• Menghitung volume semprot tiap hektar lahan.
• Melakukan pekerjaan yang serupa dengan nosel yang berbeda (nosel yang digunakan nosel merah dan nosel kuning).
2. Metode waktu
• Memisalkan volume semprotnya adalah 500 liter/hektar.
• Memasukkan air ke dalam tangki sprayer secukupnya.
• Menentukan debit nosel dengan cara air disemprotkan selama waktu tertentu.
• Menampung air yang keluar dalam nosel di dalam ember dan mengukurnya.
• Menghitung kecepatan jalan operator
• Melakukan pekerjaan yang serupa dengan nosel yang berbeda (nosel yang digunakan nosel merah dan nosel kuning).
C. Perhitungan
Metode Luas
Nosel merah
Ulangan 1
= Larutan sebelum diaplikasikan - sisa larutan setelah diaplikasikan
= 1000 ml – 750 ml
= 250 ml
= 0,25 liter
Volume semprot/ hektar
= (Luas tanah 1 hektar : Luas petak contoh) x Larutan yang terpakai
= (10.000 m2 : 20 m2) x 0,25 liter
= 500 x 0,25 liter
= 125 liter/ hektar
Ulangan 2
= Larutan sebelum diaplikasikan - sisa larutan setelah diaplikasikan
= 1000 ml – 730 ml
= 270 ml
= 0,27 liter
Volume semprot/ hektar
= (Luas tanah 1 hektar : Luas petak contoh) x Larutan yang terpakai
= (10.000 m2 : 20 m2) x 0,25 liter
= 500 x 0,27 liter
= 135 liter/ hektar
Ulangan 3
= Larutan sebelum diaplikasikan - sisa larutan setelah diaplikasikan
= 1000 ml – 750 ml
= 250 ml
= 0,25 liter
Volume semprot/ hektar
= (Luas tanah 1 hektar : Luas petak contoh) x Larutan yang terpakai
= (10.000 m2 : 20 m2) x 0,25 liter
= 500 x 0,25 liter
= 125 liter/ hektar
Nosel kuning
Ulangan 1
= Larutan sebelum diaplikasikan - sisa larutan setelah diaplikasikan
= 1000 ml – 640 ml
= 360 ml
= 0,36 liter
Volume semprot/ hektar
= (Luas tanah 1 hektar : Luas petak contoh) x Larutan yang terpakai
= (10.000 m2 : 10 m2) x 0,36 liter
= 1000 x 0,36 liter
= 360 liter/ hektar
Ulangan 2
= Larutan sebelum diaplikasikan - sisa larutan setelah diaplikasikan
= 1000 ml – 580 ml
= 420 ml
= 0,42 liter
Volume semprot/ hektar
= (Luas tanah 1 hektar : Luas petak contoh) x Larutan yang terpakai
= (10.000 m2 : 10 m2) x 0,36 liter
= 1000 x 0,42 liter
= 420 liter/ hektar
Ulangan 3
= Larutan sebelum diaplikasikan - sisa larutan setelah diaplikasikan
= 1000 ml – 650 ml
= 350 ml
= 0,35 liter
Volume semprot/ hektar
= (Luas tanah 1 hektar : Luas petak contoh) x Larutan yang terpakai
= (10.000 m2 : 10 m2) x 0,35 liter
= 1000 x 0,35liter
= 350 liter/ hektar
Metode waktu
Nosel merah
Ulangan 1
Volume semprot = 500 liter/ hektar
Waktu semprot = 30 detik atau ½ menit
Volume air yang keluar dari nosel dan ditampung di gelas ukur
= 900 ml = 0,90 liter
Debit nosel = 0,90 liter/ 30 detik
Waktu dalam menghabiskan larutan sebanyak 500 liter/ hektar
= ( Volume semprot : Volume air yang keluar dari nosel) x ½ menit
= (500 liter : 0,90 liter) x ½ menit
= 278 menit
Jarak operator bergerak dalam 1 hektar
= ( 100 m : 2m) x 100 m
= 5000 m
Kecepatan jalan operator
= 5000 m : 278 menit
= 50 m : 2, 78 menit
= 1079 m/ jam
= 1,079 km/ jam
Ulangan 2
Volume semprot = 500 liter/ hektar
Waktu semprot = 30 detik atau ½ menit
Volume air yang keluar dari nosel dan ditampung di gelas ukur
= 900 ml = 0,90 liter
Debit nosel = 0,90 liter/ 30 detik
Waktu dalam menghabiskan larutan sebanyak 500 liter/ hektar
= ( Volume semprot : Volume air yang keluar dari nosel) x ½ menit
= (500 liter : 0,90 liter) x ½ menit
= 278 menit
Jarak operator bergerak dalam 1 hektar
= ( 100 m : 2m) x 100 m
= 5000 m
Kecepatan jalan operator
= 5000 m : 278 menit
= 50 m : 2, 78 menit
= 1079 m/ jam
= 1,079 km/ jam
Ulangan 3
Volume semprot = 500 liter/ hektar
Waktu semprot = 30 detik atau ½ menit
Volume air yang keluar dari nosel dan ditampung di gelas ukur
= 900 ml = 0,90 liter
Debit nosel = 0,90 liter/ 30 detik
Waktu dalam menghabiskan larutan sebanyak 500 liter/ hektar
= ( Volume semprot : Volume air yang keluar dari nosel) x ½ menit
= (500 liter : 0,90 liter) x ½ menit
= 278 menit
Jarak operator bergerak dalam 1 hektar
= ( 100 m : 2m) x 100 m
= 5000 m
Kecepatan jalan operator
= 5000 m : 278 menit
= 50 m : 2, 78 menit
= 1079 m/ jam
= 1,079 km/ jam
Nosel kuning
Ulangan 1
Volume semprot = 500 liter/ hektar
Waktu semprot = 30 detik atau ½ menit
Volume air yang keluar dari nosel dan ditampung di gelas ukur
= 400 ml = 0,40 liter
Debit nosel = 0,40 liter/ 30 detik
Waktu dalam menghabiskan larutan sebanyak 500 liter/ hektar
= ( Volume semprot : Volume air yang keluar dari nosel) x ½ menit
= (500 liter : 0,40 liter) x ½ menit
= 625 menit
Jarak operator bergerak dalam 1 hektar
= ( 100 m : 0,5m) x 100 m
= 2000 m
Kecepatan jalan operator
= 2000 m : 625 menit
= 20 m : 6, 25 menit
= 192 m/ jam
= 0,192 km/ jam
Ulangan 2
Volume semprot = 500 liter/ hektar
Waktu semprot = 30 detik atau ½ menit
Volume air yang keluar dari nosel dan ditampung di gelas ukur
= 410 ml = 0,41 liter
Debit nosel = 0,41 liter/ 30 detik
Waktu dalam menghabiskan larutan sebanyak 500 liter/ hektar
= ( Volume semprot : Volume air yang keluar dari nosel) x ½ menit
= (500 liter : 0,41 liter) x ½ menit
= 610 menit
Jarak operator bergerak dalam 1 hektar
= ( 100 m : 0,5m) x 100 m
= 2000 m
Kecepatan jalan operator
= 2000 m : 610 menit
= 20 m : 6,10 menit
= 197 m/ jam
= 0,197 km/ jam
Ulangan 3
Volume semprot = 500 liter/ hektar
Waktu semprot = 30 detik atau ½ menit
Volume air yang keluar dari nosel dan ditampung di gelas ukur
= 450 ml = 0,45 liter
Debit nosel = 0,45 liter/ 30 detik
Waktu dalam menghabiskan larutan sebanyak 500 liter/ hektar
= ( Volume semprot : Volume air yang keluar dari nosel) x ½ menit
= (500 liter : 0,45 liter) x ½ menit
= 556 menit
Jarak operator bergerak dalam 1 hektar
= ( 100 m : 0,5m) x 100 m
= 2000 m
Kecepatan jalan operator
= 2000 m : 556 menit
= 20 m : 5,56 menit
= 216 m/ jam
= 0,216 km/ jam
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
Tabel A.1 Data pengamatan metode luas
Warna nosel Ulangan Air yang dimasukkan Air sisa Air terpakai Volume semprot / hektar
Merah 1 1000 ml 750 ml 250 ml 125 liter/ha
2 1000 ml 730 ml 270 ml 135 liter/ha
3 1000 ml 750 ml 250 ml 125 liter/ha
Rataan 743 ml 256 ml 128 liter/ha
Kuning 1 1000 ml 640 ml 360 ml 360 liter/ha
2 1000 ml 580 ml 420 ml 420 liter/ha
3 1000 ml 650 ml 350 ml 350 liter/ha
Rataan 623 ml 377 ml 377 liter/ha
Tabel A.2 Data pengamatan metode waktu
Warna nosel Ulangan Debit nosel
(liter/30 detik) Waktu yang diperlukan
( menit) Jarak operator / ha
(meter) Kecepatan jalan operator
(km/jam)
Merah 1 0,90 278 5000 1,079
2 0,90 278 5000 1,079
3 0,90 278 5000 1,079
Kuning 1 0,40 625 2000 0,192
2 0,41 610 2000 0,197
3 0,45 556 2000 0,216
B. Pembahasan
Kalibrasi adalah penyesuaian mekanisme kerja suatu alat sesuai dengan standar baku penyebaran aplikasi herbisida secara merata pada lokasi lahan yang disemprot. Kalibrasi dilakukan sebelum melakukan penyemprotan, syarat yang harus dilakukan antara lain yaitu kecepatan jalan dan tekanan tangki harus konstan, serta operator, alat, dan lahan yang digunakan saat kalibrasi dan aplikasi harus sama. Tujuan dilakukannya kalibrasi adalah supaya dalam penyemprotan dapat dilakukan dengan jumlah yang tepat sesuai arah sasaran dan penggunaan herbisida menjadi efisien dan efektif.
Dalam kalibrasi, kecepatan jalan operator sangat mempengaruhi karena dalam pelaksanaan di lapangan sangat dipengaruhi oleh bentuk topografi areal, penghalang seperti parit dan batang melintang. Selain itu posisi nosel juga sangat mempengaruhi dalam aplikasi herbisida. Untuk mendapatkan ketinggian nosel yang konstan yaitu dengan sudut 450 dari permukaan gulma sasaran.
Pada praktikum ini menggunakan 2 metode dalam melakukan kalibrasi, yaitu metode luas dan metode waktu. Pada metode luas, diterapkan pada lahan yang berskala sempit dengan tujuan untuk menentukan volume semprot. Sedangkan pada metode waktu, dilakukan apabila volume semprotnya sudah ditentukan dengan tujuan untuk menentukan kecepatan jalan operator.
Pada praktikum ini menggunakan 2 nosel dengan warna yang berbeda, dengan masing-masing nosel dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali untuk metode luas dan metode waktu. Nosel yang digunakan adalah nosel yang berwarna kuning dengan lebar bidang semprotnya adalah 0,5 meter dan nosel yang berwarna merah dengan lebar bidang semprotnya adalah 2 meter.
Pada metode luas, nosel yang pertama kali digunakan adalah nosel yang berwarna merah dengan volume semprot yang dihasilkan adalah 125 liter/ ha pada ulangan ke-1, 135 liter/ha pada ulangan ke- 2, dan 125 liter/ha pada ulangan ke-3.
Sedangkan volume semprot yang dihasilkan oleh nosel kuning adalah 360 liter/ha pada ulangan ke-1, 420 liter/ha pada ulangan ke-2, dan 350 liter/ha pada ulangan ke-3.
Pada metode waktu , nosel yang pertama kali digunakan adalah nosel yang berwarna merah dengan jarak yang ditempuh 5000 m dengan waktu yang diperlukan/ha 278 menit didapatkan kecepatan jalan operator sejauh 1,079 km/jam pada ulangan 1 , 2, dan 3. Sedangkan kecepatan jalan operator menggunakan nosel kuning dengan jarak tempuh 2000 m didapatkan adalah 0,192km/jam pada ulangan ke-1 dan waktu yang diperlukan/ha 625 menit, pada ulangan ke-2 kecepatan operatorv0,197 km/jam dan waktu yang diperlukan/ ha 610 menit , dan pada ulangan ke-3 kecepatan operator 0,216 km/jam dan waktu yang diperlukan/ha 556 menit.
V. KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum ini, maka didapatkan beberapa kesimpulan, antara lain :
1. Tujuan dilakukannya kalibrasi adalah supaya dalam penyemprotan dapat dilakukan dengan jumlah yang tepat sesuai arahsasaran dan penggunaan herbisida menjadi efisien dan efektif.
2. Pada metode luas bertujuan untuk menentukan volume semprot sedangkan pada metode waktu dilakukan apabila volume semprotnya sudah ditentukan dengan tujuan untuk menentukan kecepatan jalan operator.
3. Pada metode waktu didapatkan hasil pengamatan yang konstan pada ulangan 1sampai ulangan 3.
4. Volume semprot yang dihasilkan oleh nosel kuning lebih besar volumenya dibandingkan dengan volume semprot yang dihasilkan oleh nosel merah
. DAFTAR PUSTAKA
Djojosumarto, P. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius Yogyakarta.
Wudianto, R. 1999. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Penebar Swadaya, Jakarta.
Yakup, 1991. Gulma Dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Press. Jakarta.
NB : JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR SAMA JOIN KE SITE INI YAAAA :D MAKASIHHH









0 komentar:
Posting Komentar
Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD