Minggu, 16 Desember 2012

PENGENALAN DAN ANALISIS USAHA PERKEBUNAN KAKAO (Theobroma cacao, L.) DI DAERAH BOGOREJO, DUSUN 5.KECAMATAN GEDUNG TATAAN. KABUPATEN PESAWARAN.




PENGENALAN DAN ANALISIS USAHA PERKEBUNAN
KAKAO (Theobroma cacao, L.) DI DAERAH BOGOREJO, DUSUN 5.KECAMATAN GEDUNG TATAAN. KABUPATEN PESAWARAN.
 (Laporan Produksi Tanaman Perkebunan)



Oleh

Kelompok 6

Nico Irvan Pradana        1014121139
Reza Prasetya            1014121152
Pri Angga Tri Atmaja        1014121145
Tety Maryenti            1014121179
Tri Purnama Sari        1014121187








   







PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012



I.    PENDAHULUAN


1.1 Jenis Perkebunan

Jenis perkebunan pada survei kali ini adalah jenis perkebunan rakyat dengan luas areal mencapai 25 Ha. Perkebunan rakyat (tidak berbadan hukum). Perkebunan rakyat adalah perkebunan yang diselenggarakan atau dikelola oleh rakyat/pekebun yang dikelompokkan dalam usaha kecil tanaman perkebunan rakyat dan usaha rumah tangga perkebunan rakyat.

1.2 Lokasi perkebunan

Lokasi dari perkebunan rakyat ini dengan komoditas kakao terletak di daerah Bogorejo, dusun 5. Kecamatan Gedung Tataan. Kabupaten Pesawaran. Jarak yang ditempuh dari Universitas Lampung untuk ke daerah tersebut kira-kira 20-25 km.

1.3 Sosial Ekonomi

Sosial ekonomi masyarakat di sekitar perkebunan memiliki pendidikan rata-rata sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Mata pencaharian masyarakat disana yaitu petani dan menjadi buruh. Sedangkan pendapatan perkapita yang diperoleh masyarakat yaitu...........

1.4 Sejarah Kebun

Perkebunan ini merupakan perkebunan rakyat dengan kepala gapoktan (kelompok tani) bernama Pak Manto. Perkebunan ini berkembang menjadi perkebunan yang besar yaitu ketika masyarakat ingin bertanam, terdapat PTPN 7 yang menjual benih kakao (sumber benih). PTPN 7 ini mengonpensasi bagi masyarakat yang ingin menanam kakao, sehingga pak Manto tertarik dan menanam kakao karena tanaman kakao menjanjikan ekonomi masyarakat. Perkebunan ini ditanami oleh kakao yang telah berproduksi selama 15 tahun dan juga beberapa tanaman semusim apabila terdapat lahan yang kosong untuk menunggu tanaman yang belum menghasilkan (TBM). Terdapat juga beberapa tanaman lindung yang berasal dari kebun tersebut dari awal, seperti pohon petai, durian, dan pohon sengon.

































II.    LINGKUNGAN PERKEBUNAN

2.1 Tanah

Tinggi tempat dari permukaan laut yaitu sekitar 600 dpl, dengan tingkat kemiringan lahan kakao sekitar 300, dan tebal lapisan tanah sekitar......, tinggi permukaan air tanahnya yaitu.... dam jenis tanahnya yaitu tanah podsolik merah kuning, dengan pH 6.5.

2.2 Iklim

Curah hujan yang terdapat pada daerah ini  yaitu 2.264 mm-2.868 mm per tahun, dengan temperatur udara berkisar antar 260C sampai dengan 290C, dengan suhu rata-rata yaitu 280C. Kelembaban udara di daerah ini yaitu...........




















III.    TEKNIK BUDIDAYA


3.1 Komoditas

Jenis komoditas yang diusahakan yaitu kakao, varietas SCAICS 14/12. Tahun tanam varietas ini yaitu tahun 2006. Penanaman memotong matahari agar bagian tanaman terkena sinar matahari seluruhnya. Sistem tanam yang digunakan yaitu sistem tanam monokultur yaitu salah satu cara budidaya di lahan pertaniandengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam. Besar jarak tanam yaitu 3x4 m.

3.2    Pembibitan

Jenis penanaman yang digunakan yaitu penanaman secara tidak langsung. Pembibitan dilakukan pada saat musim kemarau, karena apabila musim hujan banyak terkena penyakit. Pembibitan di daerah tersebut lancar tidak terjadi gangguan apapun. Selain itu pembibitan menggunakan benih hibrida. Syarat benih hibrida itu sendiri yaitu berasal dari tanaman yang berumur > 10 tahun, produksi tiap tahun meningkat, tidak ada serangan OPT. Syarat untuk pembibitan yaitu tanah polibag harus datar, dan tersedia unsur hara yang cukup, serta perbandingan tanah dengan pupuk kandang 3:1, dengan ukuran polibag yang berdiameter 10-20 cm. Sedangkan perlakuan benih untuk ditanam yaitu biji yang berlendir, yang diambil dari buah, dihilangkan lendirnya dengan cara menginjak-injak biji yang dicampur dengan abu yang berasal dari arang hitam, dan disimpan selama 2 hari kemudian akan tumbuh kecambah. Setalah berkecambah benih tersebut di tanam.



3.3 LCC

LCC atau legume cover crop tidak digalakkan di perkebunan ini mengenal biaya pembuatan sistem LCC yang mahal.

3.4 Bangunan konservasi

Terdapat rorak, parit drainase dan juga guludan. Fungsi dari rorak ini yaitu untuk menampung air hujan, dan unsur hara yang tercuci. Sehingga pemilik memberikan dekomposer kedalamnya contohnya EM4, sehingga bahan organik yang berada di dalamnya dapat terdekomposisi dan secara tidak langsung dapat memberi kesuburan pada tanah. Pembuatan rorak yaitu 1m/2m untuk mewakili 6 batang pohon atau minimal untuk 4 batang pohon. Parit drainase berfungsi untuk mengeluarkan air sehingga lahan tidak tergenang. Guludan berfungsi untuk memperkokoh perakaran tanaman kakao. Teras tidak terdapat di perkebunan ini karena kemiringan lahan tidak terlalu curam dan mulsa yang digunakan hanya mulsa organik sisa dari reruntuhan daun kakao yang berserakan.

3.5 Pohon Pelindung

Terdapat pohon pelindung di perkebunan kakao ini, dengan jenis yang bervariasi misalnya pohon kelapa, durian, dan petai, serta pohon sengon. Tahun penanaman yaitu ketika kebun tersebut dibuka, tanaman tersebut sudah ada. Perbandingan pohon pelindung dengan tanaman utama yaitu 30% : 70%. Dengan jarak tanam pohon pelindung yaitu 9x9 m dan pohon utama yaitu kakao 3x4 m.

3.5 Tanaman sela
Tidak terdapat tanaman sela pada perkebunan kakao di Bogorejo










IV.    PEMELIHARAAN TANAMAN

4.1 Pemupukan

Pemupukan yang digunakan pada perkebunan yaitu pemupukan organik dan anorganik. Pupuk organik yang digunakan contohnya pupuk kandang dan pupuk daunsedangkan pupuk anorganik yaitu pupun Urea, TSP, dan KCL. Frekuensi pemupukan yaitu 1 tahun 3 kali pemupukan, pada awal musim penghujan, tengah, dan akhir. Cara pemupukan yaitu dengan digali, ada yang memberi pupuk dengan mekanisme letter U, L, dan keliling.

4.2 Irigasi

Air didapatkan dari rorak yang berisi air. Apabila musim kemarau pohon kakao disiram pada sore hari melalui rorak atau kubangan dan dapat juga melalui tadah hujan.

4.3 Pengendalian gulma

Gulma yang menyerang perkebunan ini yaitu alang-alang dan wedusan. Bandotan atau wedusan dengan nama latin Ageratum conyzoides L. merupakan tumbuhan liar tetapi lebih dikenal sebagai tanaman penganggu (gulma). Umumnya tanaman ini tumbuh liar bersama alang-alang, dapat ditemukan di pekarangan rumah, tepi jalan atau selokan, bahkan di kebun atau di ladang. Sedangkan nama ilmiah alang alang adalah Imperata cylindrica. Alang-alang dapat berbiak dengan cepat, dengan benih-benihnya yang tersebar cepat bersama angin, atau melalui rimpangnya yang lekas menembus tanah yang gembur. Rumput ini senang dengan tanah-tanah yang cukup subur, banyak disinari matahari sampai agak teduh, dengan kondisi lembap atau kering. Pengendalian gulma pada perkebunan ini masih manual, tidak menggunakan bahan kimia contohnya herbisida, sehingga pengendaliannya membutuhkan banyak orang dan memperkerjakan masyarakat daerah ini.


4.4 Pengendalian PHT

Hama yang menyerang tanaman kakao pada perkebunan ini sangat banyak, akan tetapi hama yang paling penting yang dapat menurunkan hasil yaitu hama
1.    Helopeltis antonii (pengisap kulit buah kakao)
2.    Genapo morpha PBK (penggerek batang kakao)
3.    Zeuzera coffeae Nietn (penggerek batang dan cabang)
Gejala serangan buah muda yang terserang mongering lalu rontok, tetapi jika tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Serangan pada buah tua, tampak penuh bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman, kulitnya mengeras dan retak. Serangan pada pucuk layu dan mati, ranting mongering dan merangas. Kepik Helopeltis sp, termasuk hama penting yang menyerang buah kakao dan pucuk/ranting muda. Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan, tetapi sebaliknya pada buah muda. Selain kakao, hama ini juga memakan banyak tananaman lain, diantaranya: teh, jambu biji, jambu mente, lamtoro, apokat, mangga, dadap, ubi jalar, dll.
Gejala serangan Zeuzera coffeae Nietn (penggerek batang dan cabang) yaitu larvanya meggerek bagian tanaman sehingga layu, kering, dan mati. Pengendalian yang dilakukan dalam mengendalikan hama yaitu dengan kultur teknis, dan orang-orang yang ahli yang berasal dari SLPTH (sekolah lapang pengendalian hama terpadu) melakukan pengendalian kimia menggunakan nurbisan (nordon bheta sunfik fivanon) yang merupakan paket gabungan fungisida, insektisida.Tanaman yang telah terserang berat tidak perlu dilakukan eradikasi tetapi dapat dipotong kemudian tumbuh dan melakukan penyambungan kembali.

4.5 Pemangkasan

Pemangkasan pada tanaman kakao daerah ini sama dengan teknis budidaya pada umumnya yaitu jangan terlalu banyak daun dan ranting. Pemangkasan dibagi menjadi 4 yaitu :
1.    Pemangkasan bentuk 8 bulan sampai 1 tahun, jurjet (percabangan) dipelihara 3 cabang yang paling baik sehingga terlihat seimbang dan terkena sinar matahari.
2.    Pemangkasan pemeliharaan yaitu cabang yang tumpah tindih dan menumpuk dengan 10 cm jaraknya dipangkas. Cabang yang membalik ke arah titik tumbuh atau ke arah batang juga dipangkas. Cabang cacing yang panjangnya dapat mencapai 5 m juga dipangkas, serta cabang yang mati juga dipangkas.
3.    Pewiwilan, merupakan pemangkasan cabang yang hanya tumbuh saja tanpa mengahasilkan buah. Cabang ini harus terus dipotong bila tumbuh, dan pada musim hujan cabang ini tumbuh dengan bunga.
4.    Pemangkasan produksi (pemangkasan setelah panen). Pemangkasan ini dilakukan pada bulan 1-3, dan perhatikan jangan memangkas ketika pucuk masih muda (merah) karena N akan ditranslokasikan ke arah bunga dan bunga dapat mengalami kerontokan. Pada bulan 4, 5, dan ke 6 ketika buah banyak, pangkaslah cabang yang kira-kira tidak berguna dan sisakan 2 jurjet (percabangan) apabila tidak tumbuh daun.

4.6 Penyambungan

Terdapat beberapa metode perkembangbiakan secara vegetatif pada perkebunan ini. Pihak perkebunan lebih sering menggunakan sistem perkembangbiakan secara vegetatif dibandingkan generatif karena pada perkembangbiakan vegetatif sifat induk diturunkan kepa anaknya secara keseluruhan sehingga baik dari produksinya, ketahanan terhadap OPT, dan kualitas rasa sama. Akan tetapi apabila buah kakao sudah tidak baik produksinya biasanya dalam kurun waktu 15 tahun. Maka, tanaman kakao akan diganti dan dilakukan cara perkembangbiakan generatif yaitu dengan benih hibrida, agar mendapatkan hasil yang kualitas dan kuantitasnya baik.
Jenis-jenis penyambungan:
1.    Sambung pucuk
Syarat untuk melakukan sambung pucuk yaitu memilih enterest yang baik, dan yang segar. Kemudian enterest disambung dengan cabang yang baik dan diikat dengan plastik dari bawah, sedangkan bagian atas ditutup dengan plastik untuk menjaga kelembabannya. Cabang untuk penyambungan dengan enterest haruslah cabang yang baik. Tunas akan tumbuh selama 20 hari setelah 10-15 cm tumbuh baru kemudian tali pengikat dibuka. Setelah menjadi batang yang produktif, batang lainnya yang tidak produktif lagi kemudian dipangkas.
2.    Sambung samping
Memilih enterest yang baik, kemudian dipotong dan dirontokkan daunnya. Arah potongan enterest meruncing kebawah dan bagian atasmya meruncing juga untuk dilakukan penempelan di samping. Setelah itu melakukan pemilihan batang, batang dikelotok kemudian ditempelkan dengan enterest diikat dengan tali dan jangan sampai goyang, selanjutnya ditutup plastik jangan sampai air masuk. Setelah 20 hari maka tunas akan tumbuh. Penyambungan dilakukan dengan menggunakan pisau khusus setekan.































V.    PANEN, PASCA PANEN, DAN PEMASARAN


5.1 Panen

Pemanenan dilakukan pada saat buah yang bewarna kuning dan semu coklat. Cara panen yang dilakukan yaitu dengan memotong buah dengan menggunakan pisau khusus. Dilakukan selama 8 hari sekali ( 2 hari memetik, 1 hari pecah, 3 hari penjemuran, dan 2 hari pemetikan kembali)

5.2 Pasca panen

Penyortiran dilakukan untuk mendapatkan kakao yang berkualitas baik, sedang, dan buruk. Umunya untuk PT kadar air nya harus 7 %, berat biji maksimal 1200. Untuk tengkulak yaitu standar, tidak terlalu banyak persyaratan.

5.3 Pemasaran

Pemasaran tidak ditawarkan secara langsung, tengkulak biasanya mengetahui waktu panen, sehingga setelah pemanenan para pedagang ataupun tengkulak langsung berada di perkebunan. Keuntungan yang diperoleh untuk 1 kali panen untuk lahan 1 ha yaitu 15 juta. 1 bulan dilakukan 2 kali pemanenan sehingga mendapat keuntungan 30 juta dengan produksi kakao 1 ha sebanyak 2.5 ton/ tahun.






















LAMPIRAN


















FOTO-FOTO KEGIATAN

NARASUMBER












TEKNIK SAMBUNG PUCUK


      
   


PUPUK



RORAK


KELOMPOK 6 DAN KEADAAN KEBUN















0 komentar:

Posting Komentar

Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD