Minggu, 16 Desember 2012

RESPIRASI TANAH

RESPIRASI TANAH
(Laporan Praktikum Biologi dan Kesehatan Tanah)







Oleh
Kelompok 2

Miandri Sabli Pratama    1014121133
Ni Wayan Devhi        1014121138
Reza Prasetia            1014121152
Tety Maryenti            1014121179
Tiya Oviana            1014121185














PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012
I.  PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang

Respirasi tanah merupakan suatu proses yang terjadi karena adanya kehidupan mikrobia yang melakukan aktifitas hidup dan berkembang biak dalam suatu massa tanah. Mikrobia dalam setiap aktifitasnya membutuhkan O2  atau mengeluarkan CO2 yang dijadikan dasar untuk pengukuran respirasi tanah. Laju respirasi maksimum terjadi setelah beberapa hari atau beberapa minggu populasi maksimum mikrobia dalam tanah, karena banyaknya populasi mikrobia mempengaruhi keluaran CO2 atau O2 yang dibutuhkan mikrobia. Oleh karena itu, pengukuran respirasi tanah lebih mencerminkan aktifitas metabolik mikrobia daripada jumlah, tipe, atau perkembangan mikrobia tanah.
Penentuan respirasi tanah lebih sering mengukur keluaran CO2 dibanding kebutuhan O2 disebabkan karena : (1) mikrobia anaerobik tetap menghasilkan CO2 walaupun tidak menghasilkan O2, (2) mikrobia mengandung enzim dekarboksilasi aktif sehingga walaupun tidak mengonsumsi O2 tetap menghasilkan CO2, (3) terjadinya dekarboksilasi aktif kimia oleh enzim bebas, dan (4) sulit untuk membuat kondisi benar-benar aerob.
Penetapan respirasi tanah didasarkan pada:
    1. Penetapan jumlah CO2 yang dihasilkan oleh mikroorganisme tanah.
    2. Jumlah O2 yang digunakan oleh mikroorganisme tanah.


B.  Tujuan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui proses respirasi tanah dan penetapan jumlah CO2 yang dihasilkan.
2. Mengetahui jumlah O2 yang digunakan oleh mikroorganisme tanah.
II.  METODOLOGI


A.  Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah:
•    Toples
•    Selotip
•    Pipet tetes

Bahan yang digunakan adalah:
•    Sampel tanah
•    KOH
•    Penolftalin
•    HCl
•    Metil oranye


B.  Cara Kerja

Dimasukkan 100 gr tanah lembab kedalam 1 L botol
   

Dimasukkan 5 ml 0,2 N KOH dan 10 ml aquades masing-masing dalam 10 ml gelas breaker
       

Dimasukkan kedua gelas breaker yang berisi KOH dan aquades kemudian botol ditutup
       

Diinkubasi botol-botol pada temperatur kamar ditempatkan gelap selama 1 minggu

   

Ditentukan jumlah CO2 yang dihasilkan dengan cara filtrasi didalam breaker gelas yang berisi KOH masukkan 2 tetes penolptalin
       

Dimasukkan 2 tetes metil oranye pada larutan dan dititrasi kembali dengan HCl
       

Dibuat kontrol, yaitu botol inkubasi tetapi tanpa sampel tanah







































III.  HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A.  Hasil Pengamatan

Tabel hasil pengamatan jumlah CO2 yang dihasilkan tiap kilogram tanah lembab per hari (r)
Kelompok    Jumlah CO2-C    Jenis Tanah
1    3,43    Kontrol
2    5,31    NPK
3    10,28    Bensin
4    5,65    Kompos
5    2,57    Kontrol
6    4,285    NPK
7    10,8    Bensin
8    12,68    Kompos


B.  Pembahasan

Sampel tanah yang digunakan adalah tanah subur dengan pemberian NPK. Sampel tanah tersebut diinkubasi selama seminggu dengan prosedur yang telah dijelaskan pada cara kerja praktikum. Diinkubasi dalam kondisi kedap udara sehingga tidak terjadi pertukaran gas dari dalam toples keluar toples. Setelah diinkubasi, dibuka toples tersebut. Secara kasat mata atau visualisasi terjadi penambahan volume KOH dan pengurangan volume H2O. Berarti sudah jelas terjadi peningkatan CO2 oleh larutan KOH.
Untuk menguji jumlah CO2 yang dihasilkan, dilakukan titrasi dengan memasukkan 2 tetes penolptalin kedalam gelas breaker KOH.  Kemudian dititrasi dengan HCl sampai warna merah menghilang. Volume HCl yang didapat adalah 4,1 ml. Setelah berubah warna menjadi putih bening, ditambahkan 2 tetes metil oranye pada larutan tersebut, dan dititrasi kembali dengan HCl sampai warna

kuning berubah menjadi pink. Volume HCl nya adalah 10,2 ml. Jadi volume HCl yang digunakan untuk mentitrasi KOH adalah 6,1 ml.

Untuk volume HCl kontrol didapat 3 ml. Dan hasil perhitungan jumlah CO2-C yang dihasilkan tiap kilogram tanah lembab per hari (r) untuk kelompok 2 adalah 5,31 ml. Untuk jenis tanah kontrol, pada kelompok 1 dihasilkan 3,43 ml dan kelompok 5 dihasilkan 2,57 ml. Untuk jenis tanah NPK, pada kelompok 2 dihasilkan 5,31 ml dan pada kelompok 6 dihasilkan 4,285 ml. Untuk jenis tanah dicampur bensin, jumlah CO2-C yang dihasilkan pada kelompok 3 adalah 10,28 ml dan pada kelompok 7 adalah 10,8 ml. Sedangkan untuk jenis tanah kompos, pada kelompok 4 dihasilkan 5,65 ml dan pada kelompok 8 dihasilkan 12,68 ml. Untuk jenis tanah yang dicampur bensin merupakan nilai tertinggi untuk menghasilkan CO2-C (respirasi tanah tinggi). Mungkin ini disebabkan karena tanah tersebut memiliki populasi mikroorganisme yang banyak dan memiliki sumber energi yang banyak. Sedangkan untuk jenis tanah kontrol adalah yang paling rendah menghasilkan CO2-C (respirasi tanah rendah). Mungkin ini disebabkan karena sumber energi bagi mikroorganisme sedikit sehingga populasi mikroorganisme yang hidup sangat sedikit.

Menurut Swedya (1996) respirasi dan aktivitas mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan jumlah karbon dalam tanah. Dimana tingginya bahan organik (karbon) akan dapat meningkatkan populasi mikroorganisme dan aktivitasnya, karena bahan organik digunakan oelh mikroorganisme tanah sebagai penyusun tubuh dan sumber energinya.
Sedangkan menurut Alexander (1997) jumlah dan aktivitas mikroorganisme didalam tanah dipengaruhi oleh bahan organik, kelembaban, aerasi dan sumber energi.

Biasanya konsentrasi CO2 dalam tanah dipengaruhi oleh tingginya mikroorganisme didalam tanah, produksi CO2 yang sangat berarti, aktivitas mikroorganisme tanah juga tinggi dan hal ini membantu tanah untuk tetap subur(Wahyuni, 2003).
Dan juga aktivitas mikroorganisme yang tinggi akan menghasilkan produksi CO2 yang tinggi(Sutedjo, 1996).

Menurut Hanafiah (2005) jumlah CO2 yang dihasilkan mikroorganisme tanah dipengaruhi oleh kondisi lembab dan temperatur yang sesuai. Pada kondisi temperatur yang baik, 1 kg tanah dapat mengeluarkan atau membebaskan 1-30 mg C sebagai CO2.



























IV.  KESIMPULAN


Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Jenis tanah yang diberi bensin memiliki nilai CO2-C tertinggi karena tanah
    yang dicampur bensin merupakan tanah tercemar yang banyak sumber
    energinya.
2. Jenis tanah yang diberi NPK memiliki nilai CO2-C sebesar 5,31 ml/hari untuk
    kelompok 2.
3. Konsentrasi CO2 didalam tanah (respirasi tanah) sangat dipengaruhi oleh
    jumlah mikroorganisme yang berada didalam tanah tersebut.
4. Jumlah CO2 yang dihasilkan oleh tanah dari aktivitas mikroorganisme
    dipengaruhi oleh faktor seperti bahan organik, kelembaban, aerasi dan sumber
    energi.














DAFTAR PUSTAKA


Alexander, M. 1977. Introduction to Soil Microbiology. Academic Press:
Newyork.

Hanafiah, K. A. 2005. Biologi Tanah: Ekologi dan Makrobiologi Tanah. Grafindo
Persada: Jakarta.

Sutedjo, M. 1996. Mikrobiologi Tanah. Rineka Cipta: Jakarta.

Swedya, 1996. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. UI Press:
Jakarta.

Wahyuni, 2003. Mikrobiologi dan Ekologi Tanah. Erlangga: Jakarta.






























LAMPIRAN








PERHITUNGAN


(1) Perubahan warna menjadi tidak berwarna (indikator penolptalin)
    K2CO3  +  HCl            KCl  +  KHCO3
             (4,1 ml)

(2) Perubahan warna kuning menjadi pink (indikator metil oranye)
    KHCO3  +  HCl             KCl  +  H2O  +  CO2
            (6,1 ml)


Diket:    a = 6,1 ml
    b = 3 ml (kontrol)
    t = 0,1 N
    n = 7 hari

Dit:    r = ?
Jawab:
r =  (a – b) x t x 120 / n
  = (6,1 – 3) x 0,1 x 120 / 7
  = 5, 31 ml


NB : JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR SAMA JOIN KE SITE INI YAAAA :D MAKASIHHH






0 komentar:

Posting Komentar

Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD