Senin, 03 Desember 2012

PENGUKURAN KADAR AIR BENIH




PENGUKURAN KADAR AIR BENIH
 (Laporan Praktikum Teknologi Benih)





Oleh

Kelompok 7
Tety Maryenti
1014121179









  







LABORATORIUM BENIH
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2011



I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Seperti yang diketahui pada umumnya, benih merupakan material yang higroskopis, yang memiliki susunan yang komples dan heterogen. Air merupakan bagian yang fundamental terdapat demikian rupa dalam benih, artinya terdapat di setiap bagian dalam benih. Kadar air benih tergantung pada lembab relative dan temperatur. Kadar air benih adalah jumlah air yang terkandung dalam benih. Pengukurannya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara langsung atau tidak langsung. Pengukuran dengan cara langsung yaitu dengan menguapkan seluruh air yang terkandung oleh benih. Penguapan itu biasa dilakukan mengunakan oven. kadar air adalah selisih antar bobot benih sebelum dikeringkan (Bo) dan bobot benih setelah dikeringkan semua air nya (B1).

Pengukuran kadar air benih dengan cara tak langsung adalah pengukuran kadar air menggunakan alat pengukur kadar air elektronik, misalnya dengan moister terster tipe steinlet, dengan alat pengukur kadar air, kita mengetahui kadar air benih tidak langsung mengukur jumlah air yang terkandung benih tetapi melalui nilai setaraan antara daya hantar listrik benih akibat adanya air didalamnya. Jika alat ukurnya bekerjadengan baik, maka hasil pengukuran kadar air dari kedua cara itu tidak berbeda.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian kadar air benih ini adalah contoh kerja yang digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang kedap udara, sehingga kadar airnya tidak berubah. Apabila contoh kerja terkontaminasi udara maka kemungkinan besar kadar air benih yang diuji bukan merupakan kadar air yang sebenarnya.
B. Tujuan

Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum pengukuran kadar air benih adalah :
1.    Untuk mempelajari cara mengukur kadar air benih dengan cara langsung.
2.    Untuk mempelajari cara mengukur kadar air benih dengan cara tidak langsung.






























II. TINJAUAN PUSTAKA


Pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi, artinya dari benih yang bervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi. Vigor benih yang tinggi dicirikan antara lain tahan disimpan lama, tahan terhadap serangan hama penyakit, cepat dan merata tumbuhnya serta mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan lingkungan tumbuh yang sub optimal. Pada umumnya uji vigor benih hanya sampai pada tahapan bibit. Karena terlalu sulit dan mahal untuk mengamati seluruh lingkaran hidup tanaman. Oleh karena itu digunakanlah kaidah korelasi misal dengan mengukur kecepatan berkecambah sebagai parameter vigor, karena diketahui ada korelasi antara kecepatan berkecambah dengan tinggi rendahnya produksi tanaman. Rendahnya vigor pada benih dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain faktor genetis, fisiologis, morfologis, sitologis, mekanis dan mikrobia (Sutopo, 1984).

Komposisi kimia benih mempengaruhi kadar air keseimbangan benih dengan lingkungannya. Jumlah kelembaban benih pada saat keseimbangan berkaitan langsung dengan kimia benih (Sadjad, 1993).

Penentuan kadar air benih dan suatu kelompok benih sangat penting untuk dilakukan karena laju kemunduran suatu benih dipengaruhi pula oleh kadar airnya (Sutopo, 1984).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian kadar air benih ini adalah contoh kerja yang digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang kedap udara, karena itu penetapan kadar air, jika contoh kerja yang digunakan telah terkontaminasi udara luar maka kemungkinan besar kadar air benih yang diuji bukan merupakan kadar air benih yang sebenarnya karena telah mengalami perubahan akibat kontaminasi udara dari lingkungan (Anonymous, 2011).

Umumnya pada tanaman legume dan padi-padian, ovule atau tepatnya embryosac yang sedang mengalami proses fertilisasi mempunyai kadar air kira-kira 80%. Dalam berapa hari kemudian kadar air ini meningkat sampai kira-kira 85%, dan pelan-pelan menurun secara teratur (Kamil, 1986).

Benih merupakan material yang higroskopis, memiliki susunan yang kompleks dan heterogen. Air merupakan bagian yang fundamental terdapat demikian rupa dalam benih, artinya terdapat di setiap bagian benih. Kadar air benih karena keadaan yang higroskopis itu tergantung pada lembab relative dan temperature. Apabila tekanan uap dalam benih ternyata lebih besar daripada tekanan udara disekitarnya, maka uap air akan menerobos dan keluar dari dalam benih, dan begitu pula sebaliknya. Apabila tekanan uap di dalam benih sama kuatnya dengan tekanan uap di luar benih, maka dalam keadaan demikian tidak akan terjadi pergerakan. Kondisi ini dikatakan kadar air yang seimbang ( Katrasapoetra, 1986).















III.  METODOLOGI PERCOBAAN


A. Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium benih pada Hari Senin, tanggal 28 Oktober 2011, pukul 08.00-10.00 WIB.

B. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pelaksanaanpraktikum ini adalah : Benih (padi dan jagung),oven, timbangan halus, pengukur kadar air elektrik tipe, grain moisture meter, kertas, dan alat tulis.

C. Pelaksanaan

Adapun pelaksanaan praktikum tersebut yaitu :
a.    Pengukuran Kadar Air Benih dengan Cara Langsung
1.    Benih padi dan jagung masing-masing 10 butir ditimbang dan dicatat bobot basahnya (B0).
2.    Kemudian semuanya dimasukkan dalam oven. Suhu oven dipasang pada 105oC. Pengovenan dilakukan selama 24 jam.
3.    Benih dikeluarkan dari oven, setelah 24 jam dioven, dan ditimbang lagi untuk mendapatkan bobot keringnya (B1).
4.    Dihitung kadar airnya berdasarkan bobot basah dan bobot kering.
5.    Pengukuran dilakukan dengan tiga ulangan.



b.    Pengukuran Kadar Benih dengan Cara Tidak Langsung
1.    Benih padi dan kedelai disiapkan masing-masing 3 dan 5 butir. Masing-masing dibuat tiga ulangan.
2.    Disiapkan alat pengukur kadar air elektrik tipe Grain Moisture Meter dan dipelajari cara penggunaannya.
3.    Diukur kadar air setiap jenis benih itu menggunakan alat ukur kadar air itu sesuai dengan cara penggunaannya.
4.    Dicatat hasil pengukuran kadar air dengan masing-masing alat ukur itu.


























IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan

Jenis Benih    Ulangan    Cara Langsung    Cara Tak Langsung (GMM)
        B0    B1    KA (B0)    KA (B1)  
Padi    1    10    8.8    12    13.636    14.2
    2    10    8.9    11    12.359    14.2
    3    10    8.8    12    13.636    14.0
    Rataan    10    8.83    11.667    13.210    14.13
Jagung    1    10    8.9    11    12.359    14.3
    2    10    8.8    12    13.636    14.3
    3    10    8.8    11    13.636    14.4
    Rataan    10    8.83    11.667    13.210    14.33


B. Pembahasan

Kadar air adalah hilangnya berat ketika benih dikeringkan sesuai dengan teknik atau metode tertentu. Penentuan kadar air benih dari suatu kelompok benih sangat penting untuk dilakukan. Karena laju kemunduran suatu benih dipengaruhi oleh kadar airnya. Pada praktikum kali ini, pengukuran kadar air benih dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan secara tidak langsung.

Pada penggunaan cara langsung diperoleh KA(B0) rataan pada benih padi yaitu sebesar 11.667%, KA(B1) rataan 13.210, secara tak langsung 14.13%. Sedangkan pada benih jagung KA(B0) rataan pada benih padi yaitu sebesar 11.667%, KA(B1) rataan 13.210, secara tak langsung 14.33%. T hitung yang didapat untuk B0 pada benih padi adalah 7.2552166 dan B1 nya adalah 2.716109754. Sedangkan pada benih jagung B0 nya adalah 7.9382 dan B1 nya adalah 3.34384.

Pengukuran kadar air langsung dan tidak langsung dilihat dari hubungannya, apabila dilihat dari data yang diperoleh tidak jauh berbeda. Oleh sebab itu dalam penelitian biasanya digunkan kedua cara ini sebagai tolak ukur kesalahan dalam percobaan. Contohnya saja ketika kita melakukan pengukuran kadar air benih secara tak langsung akan memperoleh hasil tunggal, sehingga kita tidak tahu apakah data itu benar. Seringkali kesalahan hasil dikarenakan alat yang digunakan bekerja tidak baik (error).

Metode pengukuran kadar air yang diterapkan dirancang untuk mengurangi oksidasi, dekomposisi atau hilangnya zat yang mudah menguap bersamaan dengan pengurangan kelembaban sebanyak mungkin. Dalam penentuan uji kadar air digunakan 2 cara, yaitu cara langsung dan cara tak langsung. Pengukuran dengan cara langsung yaitu dengan menguapkan seluruh air yang terkandung oleh benih. Penguapan itu biasa dilakukan menggunakan oven. Sedangkan pengukuran kadar air benih dengan cara tak langsung adalah pengukuran kadar air menggunakan alat pengukur kadar air elektronik, yaitu dengan Grain moister meter.

Metode pengeringan oven telah mempertimbangkan bahwa hanya air saja yang diuapkan selama pengeringan. Namun, bagaimanapun juga senyawa yang mudah menguap mungkin ikut menguap yang akan menyebabkan hasil pengukuran over estimation. Sebagai contoh, pada beberapa benih Abies sebagian resin ikut menguap ketika benih dibelah sehingga kadar air yang dihasilkannya lebih tinggi. Dengan demikian, kadar air yang ditentukan dengan metode oven mungkin saja tidak merepresentasikan kadar air benih yang sesungguhnya. Namun, bagaimanapun juga metode pengeringan oven merupakan metode yang digunakan sebagai metode standar bila dibandingkan dengan metode lainnya yang masih harus dikalibrasi. Pemilihan metode pengukuran kadar air yang paling tepat adalah apabila cara tersebut mampu memberikan nilai kadar air tertinggi.

Kadar air benih selama penyimpanan merupakan faktor yang paling mempengaruhi masa hidupnya. Oleh karena benih yang sudah masak dan cukup kering penting untuk segera dipanen. Cara lain yang memengaruhi umur simpan benih adalah kerusakan akibat proses penggunaan alat-alat mekanik. Meski sangat penting artinya untuk menurunkan kadar air benih hingga ke tingkat yang aman untuk disimpan, namun bila kadar air benihnya terlalu kering juga dapat membahayakan benihnya. Benih yang sangat kering sangat peka terhadap kerusakan mekanis serta pelukaan sampingan lainnya. Kerusakan seperti itu dapat mengakibatkan bagian penting benih mengalami pecah-pecah atau retak pada bagian penting biji sehingga benih tersebut peka terhadap serangan cendawan yang dapat menurunkan daya simpannya.

Kadar air merupakan factor yang paling mempengaruhi kemunduran benih. Kemunduran benih meningkat sejalan dengan meningkatnya kadar air. Karena kemunduran benih dipengaruhi oleh kandungan air benih, maka penting sekali pengetahuan tentang factor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyerapan dan pertahanan uap air oleh benih serta pengaruhnya terhadap benih. Ketebalan, struktur dan komposisi kimia kulit benih jelas mempengaruhi laju penyerapan dan penahanan uap air oleh benih; kulit benih yang keras menghalangi penyerapan air secara total.












V. KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang didapat setelah melakukan praktikum ini adalah
1.    Pengukuran cara langsung diperoleh KA(B0) rataan pada benih padi yaitu sebesar 11.667%, KA(B1) rataan 13.210, secara tak langsung 14.13%.
2.    Pengukuran cara langsung pada benih jagung KA(B0) rataan pada benih padi yaitu sebesar 11.667%, KA(B1) rataan 13.210, secara tak langsung 14.33%.
3.    T hitung yang didapat untuk B0 pada benih padi adalah 7.2552166 dan B1 nya adalah 2.716109754.
4.    T hitung yang didapat pada benih jagung B0 nya adalah 7.9382 dan B1 nya adalah 3.34384.
5.    Pemilihan metode pengukuran kadar air yang paling tepat adalah apabila cara tersebut mampu memberikan nilai kadar air tertinggi.















DAFTAR PUSTAKA


Anonimous. 2011. Pengujian Kadar Air Benih. (http//wikipedia.com). Diakses pada Kamis, 03 November 2011, pukul 18:38).
Kamil, J. 1986. Teknologi Benih. Padang : Angkasaraya.
Kartasapoetra, Ance G. 1986. Teknologi Benih, Pengolahan Benih, dan Tuntunan Praktikum. Jakarta :PT Rineka Cipta.
Sadjad, Sjamso’oed. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Sutopo, Lita. 1984. Teknologi Benih. Jakarta : CV Rajawali Pers.
























LAMPIRAN















PERHITUNGAN



•    Benih Jagung (Cara Langsung)
     =
        =

        =11 %

     =
        =

        =12 %

     =
        =
        =12 %

     =
    = 11.667 %

     =
        =

        =12.359 %

     =
        =

        =13.636 %
     =
        =

        =13.636 %

     =
    = 13.210 %

•     Benih Padi (Cara Langsung)
     =
=

        =12 %

     =
        =

        =11 %

     =
=
        =12 %

     =
    = 11.667 %

     =
=

        =13.636 %

     =
        =

        =12.359 %

     =
=
        =13.636 %

     =
    = 13.210 %

•    Benih Jagung (Cara Tidak Langsung)

     =
= 11-11.667) + (12-11.667) + (12-11.667)
=
    =0.3333335

     =
= 12.359-13.210) + (13.636 -13.210) +(13.636-13.210)
=
    =0.5435765

     =
= 14.3-14.333) + (14.3 -14.333) + (14.4-14.333)
=
    =0.0050335

•    T hitung (Bo)
=
    =
=7.9382

•    T hitung (B1)
=
    =
=3.34384

•    Benih Padi (Cara Tidak Langsung)

     =
= 12-11.667) + (11-11.667) + (12-11.667)
=
    =0.3353495
     =
= 13.636-13.210) + (12.359-13.210) +(13.636-13.210)
=
    =0.5435765

    =0.5435765

     =
= 14.2-14.1333) + (14.2 -14.1333) + (14.0-14.1333)
=
    =0.013333335


•    T hitung (Bo)
=
    =
=7.2552166

•    T hitung (B1)
=
    =
=2.716109754





















0 komentar:

Posting Komentar

Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD