Senin, 18 November 2013

PENGECAMBAHAN BENIH SAWIT DAN AKLIMATISASI TANAMAN SAWIT (Elaeis guineensis)





PENGECAMBAHAN BENIH SAWIT DAN AKLIMATISASI
TANAMAN SAWIT (Elaeis guineensis)
 (Laporan Praktikum Produksi Produksi Tanaman Biofuel, Biooil, dan Minyak Atsiri)







Oleh

Kelompok 4

Miandri Sabli Pratama    1014121133
Muhammad Yudi Pratama    1014121135
Riza Aprianti            1014121159
Tety Maryenti            1014121179











PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013




I.     PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Sebagai tanaman penghasil utama minyak nabati, tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis) memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Dari tempat asalnya Brazilia, tanaman ini menyebar ke Afrika, Amerika Equatorial, Asia Tenggara, dan Pasifik Selatan. Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1848 melalui 4 batang bibit kelapa sawit yang ditanam di Kebun Raya Bogor (Botanical Garden) Bogor. Dua batang bibit tersebut berasal dari Bourbon (Mauritius) dan dua lainnya dari Hortus Botanicus, Amsterdam (Belanda). Tanaman kelapa sawit ini pada mulanya dibudidayakan sebagai tanaman hias, pada tahun 1911 baru dimulailah pembudidayaan tanaman untuk tujuan komersial dengan dibangunnya perkebunan kelapa sawit pertama di Tanahitam, Hulu Sumatera Utara oleh Schadt (Jerman).

Minyak hasil olahan kelapa sawit memiliki peran yang cukup strategis dalam perekonomian Indonesia. Sebagai bahan baku utama minyak goreng yang merupakan salah satu dari 9 bahan pokok kebutuhan rakyat, pasokan minyak sawit yang kontinyu akan menjaga kestabilan harga minyak goreng. Kelapa sawit juga merupakan andalan ekspor non migas yang memiliki prospek yang baik sebagai penghasil devisa dan pajak. Selain itu, produksi dan pengolahan kelapa sawit yang kontinyu mampu menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat.


B.    Tujuan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui tahapan-tahapan dalam pengecambahan benih kelapa sawit.
2.    Untuk mengetahui teknik aklimatisasi bibit sawit dari rumah kaca ke lapangan.






























II.    TINJAUAN PUSTAKA


Tanaman kelapa sawit (palm oil) dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Ordo        : Palmales
Famili         : Palmae
Sub – Famili     : Cocoidae
Spesies : 1. Elaeis guineensis Jacq (Kelapa Sawit Afrika)
   2. Elaeis melanococca atau Corozo oleifera (Kelapa Sawit Amerika 
       Latin)

Varietas kelapa sawit berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah:
1.    Dura; tempurung tebal (2-8mm), tidak terdapat lingkaran serabut pada bagian luar tempurung, daging buah relatif tipis yaitu 35-50% terdapat buah, kernel (daging biji) besar dengan kandungan minyak rendah dan dalam persilangan dipakai sebagai pohon induk betina.
2.    Pasifera; ketebalan tempurung sangat tipis bahkan hampir tidak ada, daging buah tebal, lebih tebal dari daging buah dura, daging biji sangat tipis, tidak dapat diperbanyak tanpa menyilangkan dengan jenis lain dan dipakai sebagai pohon induk jantan.
3.    Tenera; Dura dengan Pasifera, tempurung tipis (0,5-4mm) terdapat lingkaran  
serabut sekeliling tempurung, daging buah sangat tebal (60-96% dari buah), tandan buah lebih banyak tetapi ukuran relatif lebih kecil
4.    Macro carya; tempurung tebal sekitar 5 mm, dan daging buah sangat tipis.
Jenis varietas yang digunakan dalam perkebunan rakyat adalah jenis varietas dura karena memiliki kualitas yang cukup tinggi (Pahan, 2006).

Sedangkan berdasarkan warna buah, dikenal tiga tipe yaitu Nigrescens, Virescens, dan Albescens. Varietas unggul kelapa sawit adalah varietas Dura sebagai induk betina dan Pisifera sebagai induk jantan. Hasil persilangan tersebut memiliki kualitas dan kuantitas yang lebih baik. Varietas unggul hasil persilangan antara lain: Dura Deli Marihat (keturunan 434B x 34C; 425B x 435B; 34C x 43C), Dura Deli D. Sinumbah, Pabatu, Bah Jambi, Tinjowan, D. Ilir (keturunan 533 x 533; 544 x 571), Dura Dumpy Pabatu, Dura Deli G. Bayu dan G Malayu (berasal dari Kebun Seleksi G. Bayu dan G. Melayu), Pisifera D. Sinumbah dan Bah Jambi (berasal dari Yangambi), Pisifera Marihat (berasal dari Kamerun), Pisifera SP 540T (berasal dari Kongo dan ditanam di Sei Pancur).
Beberapa ciri yang dapat digunakan untuk menandai kecambah yang dikategorikan baik dan layak untuk ditanam antara lain sebagai berikut:
1. Warna radikula kekuning-kuningan, sedangkan plumula keputih-putihan
2. Ukuran radikula lebih panjang daripada plumula
3. Pertumbuhan radikula dan plumula lurus dan berlawanan arah
4. Panjang maksimum radikula 5 cm, sedangkan plumula 3 cm.
                                    (Pahan, 2006).

Kelapa sawit dapat dimanfaatkan dari beberapa bagiannya. Bagian yang paling utama untuk diolah dari kelapa sawit adalah buahnya. Daging buah akan menghasilkan minyak kelapa sawit mentah sebagai bahan baku minyak goreng. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga dapat diolah menjadi bahan baku minyak alkohol, sabun, lilin, dan industri kosmetika. Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos. Tandan kosong dapat dimanfaatkan untuk mulsa tanaman kelapa sawit, sebagai bahan baku pembuatan pulp dan pelarut organik, dan tempurung kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan pembuatan arang aktif (Sulistyo, 2010).

Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman monokotil, yaitu batangnya tidak mempunyai kambium dan umumya tidak bercabang. Batang kelapa sawit berbentuk silinder dengan diameter 45-60 cm. Tanaman yang masih muda, batangnya tidak terlihat karena terlindung oleh pelepah daun, tinggi batang bertambah 35-75 cm/tahun, tapi jika kondisi lingkungan yang sesuai maka pertambahan tinggi batang dapat mencapai 100 cm per tahun dan tinggi maksimum yang ditanam di perkebunan adalah 15-18 meter. Akar tanaman kelapa sawit berbentuk serabut, tidak berbuku, ujungnya runcing dan berwarna putih atau kekuningan. Perakaran kelapa sawit sangat kuat karena tumbuh ke bawah dan ke samping membentuk akar primer, sekunder, tertier dan kuarter. Sistem perakaran paling banyak ditemukan pada kedalaman 0 sampai 20 cm, yaitu pada lapisan olah tanah (top soil). Daun kelapa sawit membentuk susunan daun majemuk, bersirip genap dan bertulang sejajar serta membentuk satu pelepah yang panjangnya mencapai 7.5-9 meter. Jumlah anak daun pada setiap pelepah berkisar antara 250 sampai 400 helai (Setyatmidjaja, 2006).

Kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu (monocious), artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam satu tanaman dan masing-masing terangkai dalam satu tandan. Rangkaian bunga jantan terpisah dengan bunga betina. Setiap rangkaian bunga muncul dari pangkal pelepah daun. Rangkaian bunga jantan dihasilkan dengan siklus yang berselang seling dengan rangkaian bunga betina, sehingga pembungaan secara bersamaan sangat jarang terjadi. Umumnya di alam hanya terjadi penyerbukan silang, sedangkan penyerbukan sendiri secara buatan dapat dilakukan dengan menggunakan serbuk sari yang diambil dari bunga jantan dan ditaburkan pada bunga betina. Waktu yang dibutuhkan mulai dari penyerbukan hingga buah matang dan siap panen kurang lebih 5-6 bulan (Lubis, 2008).

Buah kelapa sawit terdiri dari dua bagian utama yaitu bagian pertama adalah perikarpium yang terdiri dari eksokarpium (kulit buah) dan mesokarpium (daging buah berserabut), sedangkan bagian yang kedua adalah biji, terdiri dari endokarpium (tempurung), endosperm (kernel) dan embrio. Menurut Yahya (1990), buah sawit yang masih mentah berwarna ungu atau hijau karena mengandung antosianin, sedangkan mesokarp buah yang masak mengandung 45-60% minyak (edible) yang berwarna merah-jingga karena mengandung karoten. Tanaman kelapa sawit rata-rata menghasilkan buah 20-22 tandan per tahun. Untuk tanaman yang semakin tua produktivitasnya akan menurun menjadi 12-14 tandan per tahun. Pada tahun pertama berat tandan buah sawit berkisar 3-6 kg per tandan, tetapi semakin tua berat tandan semakin bertambah yaitu 25-35 kg per tandan. Banyaknya buah yang terdapat pada satu tandan tergantung pada faktor genetis, umur, lingkungan, dan teknik budidaya. Jumlah buah per tandan pada tanaman yang cukup tua mencapai 1600 buah, panjang buah antara 2-5 cm dan berat sekitar 20-30 kg per buah (Rahmitasari, 2006).




















IV.    HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A.    Hasil Pengamatan

1.    Pengecambahan Benih Sawit
No    Gambar    Keterangan
1   

    Perendaman benih sawit dura dengan dengan larutan klorok selama 15 menit.
2   

    Ditiriskan dan dikering anginkan benih sawit dura pada kertas merang.
3   

    Benih kelapa sawit di bungkus rapat dan dioven.
   

    Benih kelapa sawit yang telah dioven direndam dengan aquades untuk mengecambahkan benih kelapa sawit.



2.    Aklimatisasi Bibit Sawit
No    Gambar    Keterangan
1   
     Pemindahan bibit kelapa sawit dari polibeg kecil ke polibeg besar dan diletakkan dilapang dengan sinar matahari penuh.
2   

    Pemindahan bibit kelapa sawit dari polibeg kecil ke polibeg besar dan diletakkan dilapang dengan sinar matahari penuh.
3   

    Pemindahan bibit kelapa sawit dari polibeg kecil ke polibeg besar dan diletakkan dilapang dengan sinar matahari penuh.



B.    Pembahasan

Setiap jenis kelapa sawit memiliki ukuran dan bobot biji yang berbeda. Biji dura afrika panjangnya 2-3 cm dan bobot rata-rata mencapai 4 gram, sehingga dalam 1 kg terdapat 250 biji. Biji dura deli memiliki bobot 13 gram per biji, dan biji tenera afrika rata-rata memiliki bobot 2 gram/biji. Biji kelapa sawit umumnya memiliki periode dorman (masa non-aktif). Perkecambahannya dapat berlangsung lebih dari 6 bulan dengan keberhasilan sekitar 50%. Agar perkecambahan dapat berlangsung lebih cepat dan tingkat keberhasilannya lebih tinggi, biji kelapa sawit memerlukan pre-treatment.
Tahapan pekerjaan dalam pembuatan dan pengecambahan benih sebagai berikut:
Bunga betina dari pohon induk duradeli dibersihkan dan dan disemprot dengan insektisida kemudian dibungkus dengan kantong khusus yang tahan air kemudian di ikat pada bagian pangkalnya. Hal ini bertujuan agar serangga penyerbuk tidak dapat masuk kedalam sehingga buah yang dihasilkan nantinya adalah murni hasil persilangan. Bunga jantan pada tanaman induk psifera dibungkus dengan kantong khusus dan setelah mekar dipotong untuk diambil serbuk sarinya. Serbuk sari tersebut kemudian di simpan. Jika ingin digunakan maka diuji di labaoratorium untuk mengetes apakah masih hidup.
Bunga betina yang sudah mekar kemudian diserbuki dengan alat khusus. Buah hasil persilangan yang dihasilkan kemudian diolah untuk proses pengecambahan. Buah dikupas untuk memperoleh benih yang terlepas dari sabutnya. Pengupasan buah kelapa sawit dapat menggunakan mesin pengupas. Benih direndam dalam ember berisi air bersih selama 5 hari dan setiap hari air harus diganti dengan air yang baru.
Setelah benih direndam, benih diangkat dan dikering anginkan di tempat teduh selama 24 jam dengan menghamparkannya setebal satu lapis biji saja. Kadar air dalam biji harus diusahakan agar tetap sebesar 17%.
Selanjutnya benih disimpan di dalam kantong plastic berukuran panjang 65 cm yang dapat memuat sekitar 500 sampai 700 benih. Kantong plastik ditutup rapat-rapat dengan melipat ujungnya dan merekatnya. Simpanlah kantong-kantong plastik tersebut dalam peti berukuran 30 cm x 20 cm x 10 cm, kemudian letakkan dalam ruang  pengecambahan yang suhunya 39 °C. Benih diperiksa 3 hari sekali (2 kali per minggu) dengan membuka kantong plastiknya dan semprotlah dengan air  (gunakan hand mist sprayer) agar kelembaban sesuai dengan yang diperlukan yaitu antara 21- 22% untuk benih Dura dan 28-30% untuk Tenera. Contoh benih dapat diambil untuk diperiksa kelembabannya.
Bila telah ada benih yang berkecambah, segera semaikan pada pesemaian perkecambahan. Setelah melewati masa 80 hari, keluarkan kantong dari peti di ruang pengecambahan dan letakkan di tempat yang dingin. Kandungan air harus diusahakan tetap sepert isemula. Dalam beberapa hari benih akan mengeluarkan tunas kecambahnya. Selama 15-20 hari kemudian sebagian besar benih telah berkecambah dan siapdipindahkan ke persemaian perkecambahan (prenursery ataupun nursery). Benih yang tidak berkecambah dalam  waktu tersebut di atas sebaiknya tidak digunakan untuk bibit.






























V.    KESIMPULAN


Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.    Benih Kelapa Sawit merupakan benih alrekalsitran yang memiliki daya dormansi yang lama.
2.    Benih sawit memiliki zat penghambat perkecambahan, maka dari itu dilakukan perendaman secara terus menerus agar benih dapat berkecambah.
3.    Pemindahan bibit kelapa sawit ke lapang diharuskan berhati-hati pada saat pengangkatan akar, agar tidak putus dan mengganggu pertumbuhan bibit kelapa sawit.


















DAFTAR PUSTAKA


Lubis, A.U. 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Indonesia Edisi 2.
Pusat Penelitian Perkebunan Marihat. Sumatera Selatan. 435 hal.

Pahan dalam Zen, R.P. 2009. Prospek Pengembangan Kelapa Sawit Perkebunan
Rakyat. (Studi Kasus: KUD-P3RSU, Desa Aek Nabara, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhan Batu, USU Repository.

Rahmitasari, Dewi. 2006. Kelapa Sawit dan Pengecambahannya. PBT. Sawit. Bogor.

Setyatmidjaja, D. 2006. Kelapa Sawit Teknik Budidaya, Panen, dan Pengolahan.
Kanisius. Yogyakarta. 127 hal.

Sulistyo, B. 2010. Budi Daya Kelapa Sawit. Balai Pustaka. Jakarta. 190 hal.

























III.    METODOLOGI PERCOBAAN


A.    Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul, polibeg, plastik, dan oven. Sedangkan bahan yang digunakan adalah benih sawit dura, bibit tanaman kelapa sawit, larutan klorok, aquades, media tanah, kertas merang dan nampan.


B.    Cara Kerja

Adapun cara kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.    Perendaman benih sait dura dengan larutan klorok selama 15 menit.
2.    Mengeringanginkan benih pada kertas merang selama 5 menit.
3.    Pembungkusan benih sawit secara rapat dan diberi label.
4.    Mengoven benih sawit selama seminggu.
5.    Merenndam benih kembali selama 5-10 menit dengan air aquades.
6.    Mengoven kembali benih sawit.
7.    Mengecambahkan benih ditempat yang lembab.

0 komentar:

Posting Komentar

Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD