KEPINDING TANAH
(Makalah Hama Penting Tanaman)
Oleh
Nurrul Aslichah 1014121143
Senja Aklirinhua 1014121167
Susi Susanti 1014121177
Sri Mulyani 1014121173
Widiana Eka Wati 1014121189
POSTED BY : TETY MARYENTI
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNUVERSITAS LAMPUNG
2012
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan terpenting di Indonesia, karena sebagian besar penduduk Indonesia menggunakan beras sebagai makanan pokok. Ketergantungan pada beras tidak hanya dimiliki penduduk Indonesia, melainkan sebagian penduduk Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi di Indonesia pada tahun 2011 sebesar 65.39 juta ton gabah kering giling (GKG), mengalami penurunan sebanyak 1.08 juta ton (1.63 %) dibandingkan tahun 2010. Penurunan produksi padi terjadi karena adanya beberapa kendala diantaranya adalah iklim atau cuaca yang tidak menentu, lahan pertanian yang semakin sempit, tenaga kerja ahli semakin berkurang, teknologi dalam budidaya belum berkembang, dan adanya gangguan hama dan penyakit
Hama tanaman merupakan kendala dalam mempertahankan dan meningkatkan produksi pertanian khususnya tanaman padi. Salah satu hama penting pada pertanaman padi adalah kepinding tanah Scotinophara coarctata . Hama ini juga merupakan hama penting pada pertanaman padi terutama di negara-negara Asia. Daerah persebaran kepinding tanah meliputi Bangladesh, Myanmar, India, Indonesia, Jepang, Kamboja, China, Malaysia, Nepal, Pakistan, Filipina, Srilangka, Thailand, dan Vietnam. Hama ini pertama kali dilaporkan menyerang tanaman padi di Indonesia pada tahun 1903 dan selanjutnya di Malaysia pada tahun 1918. Populasi dan serangannya relatif kecil tetapi selalu ada sepanjang waktu di berbagai daerah di Indonesia. Kepinding tanah juga bias menjadi hama utama tanaman padi di daerah-daerah sawah lebak atau sawah pasang surut yang kondisinya selalu tergenang air, dengan kelembaban tinggi, terlebih pada musim hujan, misalnya di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Serangan hama ini menyebabkan berkurangnya jumlah anakan, pertumbuhan tanaman terhambat dan bulir padi kosong. Selain itu kepinding tanah mampu berkembang biak cepat dan sulit dikendalikan karena berada di antara batang pada bagian pangkal rumpun padi.
B. Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui ciri ciri kepinding tanah, bio-ekologi, siklus hidup, gejala serangan, pengendaliannya dan musuh alami dari kepinding tanah.
II. ISI
• Karakteristik kepinding tanah
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Hemiptera
Upaordo: Heteroptera
Infraordo: Cimicomorpha
Superfamili: Cimicoidea
Famili: Cimicidae
Spesies: Scotinophora coarctata
Kepinding adalah serangga parasit dari keluarga Cimicidae. Imago kepinding tanah berwarna coklat Warna coklat kehitaman dan bila terganggu berbau khas menyengat. Lama bertelur kepinding btanah sekitar 12-17 hari setelah kawin dan imagonya berumur 4-7 bulan hal ini disebabkan oleh umur inang, semakin tua tanaman serangga semakin berkembang dengan baik. Telur kepinding tanag berbentuk lonjong, berwarna merah jambu kehijau-hijauan. Letak telur berkelompok pada pangkat rumpun padi. Stadium telur kepinding tanah antara 4-7 hari. Nimfa kepinding tanah berwarna coklat kekuningan, tidak bersayap dan stadium nimfa antara 20-30 hari.
Gambar kepinding tanah
• Bio-ekologi kepinding tanah
Serangga kepinding tanah termasuk jenis kepik berwarna hitam kusam dengan panjang 7–10 mm dan lebar 4 mm. Tanaman inang terdiri dari padi, jagung dan tumbuh-tumbuhan golongan rumput-rumputan (graminae). Kepadatan populasi kepinding tanah sangat berpengaruh terhadap besarnya serangan hama tersebut pada tanaman padi. Infestasi awal kepinding tanah pada tanaman yang lebih muda menimbulkan kerusakan tinggi. Semakin awal infestasi semakin berkurang produksi yang dihasilkan. Penurunan hasil padi pada infestasi stadia anakan (30 hst) pada kepadatan 25–75 ekor per rumpun hasilnya akan berkurangantara 51–71%. Sedang jika infetasi pada stadia tanaman generatif, padakepadatan 25–75 ekor per rumpun hasilnya akan berkurang antara 37–48%. Pada serangan berat dapat menurunkan hasil 60 sampai 80%.
• Siklus Hidup Kepinding Tanah
Siklus hidup kepinding tanah sekitar 32-35 hari (Kalshoven 1981). Betina akan bertelur pada 12-17 hari setelah kawin. Telur diletakan pada batang padi bagian bawah secara berkelompok sebanyak 30 butir per kelompok. Serangga dewasa bisa hidup selama 7 bulan. Imago mampu hidup sampai 7 bulan dan mampu dorman dengan bersembunyi di rekahan tanah. Selama hidupnya kepinding tanah mampu menghasilkan keturunan 2-3 generasi. Kepinding tanah bersembunyi di antara batang pada bagian pangkal batang padi pada siang hari dan aktif ke bagian atas tanaman pada malam hari. Perkembangan populasi kepinding tanah pada tanaman padi sawah diawali dengan munculnya serangga dewasa pada saat tanaman umur 2-3 minggu setelah tanam. Baik nimfa maupun imago melakukan sebagian besar kegiatan makan (menghisap cairan tanaman) pada malam hari . Imago tertarik cahaya dan dapat melakukan aktivitas terbang pada malam hari (Kalshoven 1981). Populasi tinggi pada musim hujan yang merupakan populasi migrasi yang berasal dari rerumputan atau gulma yang tumbuh di daerah basah atau lembab atau dari tanaman padi yang sudah dipanen apabila pola tanamnya tidak serempak. Populasi meningkat sejalan dengan perkembangan tanaman padi, sehingga puncak populasi kepinding tanah pada tanaman padi akan dicapai pada saat menjelang panen.
• Gejala serangan
Nimfa dan imago menghisap cairan tanaman pada bagian batang dan mengakibatkan tanaman menjadi kerdil dengan daun-daun yang berwarna coklat kemerahan atau kuning. Serangan kepinding tanah pada awal musim menyebabkan pengurangan jumlah anakan dan tanaman menjadi kerdil. Kepinding tanah yang menyerang malai mengakibatkan malai tidak berkembang sempurna dan bulir kosong. Pada populasi tinggi, dapat menyebabkan pertanaman mati, diawali dengan perubahan warna kuning kemerahan dan akhirnya menjadi coklat. Akibat serangan hama ini, tanaman padi tidak bisa berkembang sempurna dan anakan hanya sedikit. Ketika berbuah tidak serempak dan saat panen banyak bulir padi yang kosong. Hama ini cepat berkembang biak, selain itu sulit dikendalikan karena berada di dalam tanah dan berlindung di antara celah pangkal batang padi. Hewan ini menyerang semua stadia tanaman sejak bibit, stadia vegetatif, berbunga dan bermalai.Serangga ini mengisap cairan tanaman pada bagian batang padi, sehingga dalam populasi yang tinggi menyebabkan tanaman menjadi kuning atau merah kecoklatan, akhirnya layu dan mati yang disebut dengan terbakar (bug burn).
• Pengendalian hama kepinding tanah
Jika populasi lebih dari 5 ekor nimfa atau dewasa perrumpun perlu segera dikendalikan. Pencegahan kehilangan hasil akibat serangan kepinding tanah dapat dilakukan melalui beberapa cara pengendalian di antaranya adalah
1. Menggunakan miko insektisida berupa cendawan Beauveria bassiana yang diaplikasikan seperti insektisida kimia karena mampu menekan populasi hingga 30%.
2. Kultur teknis dengan cara pengolahan tanah yang baik, pengaturan air padatanaman padi (intermitten), penyiangan atau pengendalian gulma dan sanitasi lingkungan (gulma dan rerumputan) terutama pada galengan dan tanggul saluran irrigasi, atau pinggiran jalan.
3. Menggunakan musuh alami seperti parasitoid dan predator. Mengingat pentingnya peran kepinding tanah pada pertanaman padi dan sulitnya pengendalian, maka untuk dapat menentukan strategi pengendalian yang lebih tepat perlu diketahui perkembangan populasinya dan jenis-jenis musuh alami yang potensial untuk mengendalikan hama tersebut.
4. Secara kimia dengan insektisida seperti Fastac 15 EC, Atabron 50 EC, Matador25 EC dan regent 50 SC , dengan volume larutan 400-500 lt/ha. Namun, penggunaan insektisida sintetik secara tidak bijaksana dan berlebihan dapat menimbulkan beberapa masalah seperti pencemaran lingkungan, hama menjadi resistensi dan terjadi resurjensi hama, serta terbunuhnya serangga yang bermanfaat (Oka 1995). Hama kepinding tanah sangat sulit dikendalikan karena bersembunyi di pangkal batang tanaman padi. Meski disemprot dengan insektisida tetap tidak efektif, karena semprotan tidak dapat menjangkau lokasi persembunyian hama tersebut. Ketika disemprot saat sawah dikeringkan, hama tersebut tetap tidak mati karena bersembunyi di pangkal batang padi, sehingga penyemprotan harus diulangi dan 3 hal ini dapat menyebabkan terbunuhnya serangga bermanfaat yang ada di pertanaman padi akibat penyemprotan insektisida terlalu intensif.
5. Secara fisik dan mekanis dengan menggunakan lampu perangkap dan pelapasan bebek/itik disawah
Gambar lampu perangkap
• Musuh alami
Musuh alami kepinding tanah antara lain:
Parasitoid telur : Scelionid
- Predator telur ; Katak dan kadal
- Predator telur,nimfa dan dewasa adalah kumbang Carabidae
Musuh alami yang dapat ditemukan di pertanaman padi yang dapat berperan sebagai predator kepinding tanah di antaranya adalah Agonium daimio (Coleoptera: Carabidae), Stenonabis tagalicus (Hemiptera: Nabidae), Rana sp. (Ranidae). Musuh alami lainnya sebagai parasitoid telur adalah Telenomus cyrus, dan T. triptus (Hymenoptera: Scelionidae), serta patogen Metarhizium anisoplae .
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesilpulan dari makalah ini adalah
1. Kepinding tanah merupakan hama penting yang dapat menurunkan produksi tanaman padi.
2. Siklus hidup kepinding tanah sekitar 32-35 hari. Betina akan bertelur pada 12-17 hari setelah kawin. Telur diletakan pada batang padi bagian bawah secara berkelompok sebanyak 30 butir per kelompok. Serangga dewasa bisa hidup selama 7 bulan.
3. Gejala serangan kepinding tanah yaitu warna kuning kemerahan dan akhirnya menjadi coklat, bulir padi kosong dan dapat menyebabkan layu dan mati yang disebut dengan terbakar (bug burn).
4. Pengendalian kepinding tanah dapat dilakukan secara fisik dan mekanis, kimia, kultur teknis, agen hayati dan miko insektisida.
DAFTAR PUSTAKA
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/57639/BAB%20I%20Pendahuluan.pdf?sequence=3. Diakses pada tanggal 27 November 2012 pukul 15.00 WIB.
http://omadun.blogspot.com/2009/02/kepinding-tanah-scotinophora-coarctata.html. Diakses pada tanggal 27 November 2012 pukul 15.00 WIB.
http://www.scribd.com/doc/47077450/walang-sangit-dan-kpd-tanah. Diakses pada tanggal 27 November 2012 pukul 15.00 WIB
http://tanamanpangan71.blogspot.com/2011/12/kepinding-tanah-black-bug.html. Diakses pada tanggal 27 November 2012 pukul 15.00 WIB
Kalshoven, LGE. 1981. The Pest of Crops in Indonesia. PT. Ichtiar Baru van Hoeve,
Jakarta.









0 komentar:
Posting Komentar
Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD