Senin, 18 November 2013

RIPTORTUS LINEARIS







RIPTORTUS LINEARIS
(Tugas Hama Penting Tanaman)










Oleh
Mutoharoh            1014121136
Ni Wayan Devhi Lestari    1014121138
Resti Kartini            1014121149
Ridwan Kusuma        1014121156
Sucipto            1014121176



Posted by : Tety Maryenti











PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012






I.    PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Salah satu hambatan dalam peningkatan produksi pangan adalah serangan hama tanaman. Kebanyakan kerugian petani di sebabkan karena kemerosotan hasildan kualitas yang disebabkan oleh serangan hama. Di antara hama penyebab rendahnya produksi kacang-kacangan adalah Riptortus linearis Fabr. ( Hemiptera : Alydidae ) yang telah diketahui merupakan salah satu hama penting pada kedelai (Glycine max ( L . ) m arrill ) di Jawa Timur khususnya dan di Indonesia pada umumnya karena dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 80%, bahkan puso bila tidak dikendalikan. Serangga merusak dengan cara mengisap biji pada polong muda maupun polong yang sudah tua . Polong yang telah terserang menjadi kempis kering, keriput, hitam dan tidak berisi.

Untuk mengatasi masalah hama, umumnya petani menggunakan insektisida secara berlebihan, sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif, antara lain musnahnya musuh alami dan munculnya gejala resistensi hama terhadap insektisida. Oleh karena itu, upaya pengendalian hama harus didasarkan atas konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Penggunaan insektisida dibenarkan bila dari segi ekonomi, manfaat yang diperoleh sekurang-kurangnya sama dengan biaya pengendalian hama, dan dari segi ekologi, bila komponen ekosistem, baik fisik maupun biologis, tidak mampu menekan populasi hama dan mempertahankannya pada tingkat keseimbangan rendah. Kedua dasar penggunaan insektisida tersebut melahirkan gagasan tentang konsep ambang ekonomi.


B.    Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengenal lebih jauh tentang Riptortus linearis, tentang biologi dan ekologi Riptortus linearis serta pengendaliannya.














































II.    ISI




Klasifikasi Riptortus linearis
Hama ini sering dikenal dengan sebutan kepik penghisap polong kedelai karena hama ini menyerang polong kedelai. Menurut Anonymous (2010) dalam Wahyu (2010), klasifikasi kepik penghisap polong kedelai ini adalah:

Kingdom        :  Animalia
Filum        :  Arthropoda
Kelas        :  Insecta
Ordo        :  Hemiptera
Famili        :  Alydidae
Genus        :  Riptortus
Spesies        :  Riptortus linearis
Ciri khas serangga ini terdapat pada stadia imago, yaitu adanya garis putih kekuningan pada sepanjang sisi badannya. Imago Riptortus linearis bertubuh memanjang dan berwarna kuning coklat. Jumlah imago yang hidup sebanyak 50 ekor. Imago memiliki sayap sehingga bisa terbang. Perbedaan antara imago jantan dan betina dapat terlihat pada bagian abdomen. Pada abdomen betina terdapat garis segitiga berwarna putih, sedangkan pada jantan hanya ada garis memanjang berwarna putih. Jika sudah berisi telur, serangga betina memiliki abdomen yang membesar dan menggembung pada bagian tengah, sedangkan abdomen jantan lurus ke belakang. Rata-rata lama stadium imago adalah 29,3 ± 13,75 hari. Lama perkembangan Riptortus linearis dari telur hingga imago membutuhkan waktu 64,48 hari.

Biologi Riptortus linearis

Kepik polong kedelai Riptortus linearis memiliki tipe metamorfosis paurometabola yaitu terdiri dari telur, nimfa, dan imago. Telur R. linearis berbentuk bulat dan berwarna coklat. Siklus hidup Riptortus linearis meliputi stadium telur, nimfa yang terdiri atas lima instar, dan stadium imago. Imago (Gambar 1a) berbadan panjang dan berwarna kuning kecokelatan dengan garis putih kekuningan di sepanjang sisi badannya (Tengkano dan Dunuyaali 1976 dalam Prayogo dan Suharsono, 2005). Imago datang pertama kali di pertanaman kedelai saat tanaman mulai berbunga dengan meletakkan telur satu per satu pada permukaan atas dan bawah daun. Seekor imago betina mampu bertelur hingga 70 butir selama 4– 47 hari. Imago jantan dan betina dapat dibedakan dari bentuk perutnya, yaitu imago jantan ramping dengan panjang 11– 13 mm dan betina agak gemuk dengan panjang 13–14 mm.

Telur Riptortus linearis berbentuk bulat dengan bagian tengah agak cekung, ratarata berdiameter 1,20 mm. Telur berwarna biru keabuan kemudian berubah menjadi cokelat suram (Gambar 1b). Setelah 6–7 hari, telur menetas dan membentuk nimfa instar I selama 3 hari (Gambar 1c). Pada stadium nimfa, Riptortus linearis berganti kulit (moulting) lima kali. Setiap berganti kulit terlihat perbedaan bentuk, warna, ukuran, dan umur.

Nimfa instar pertama berubah warna dari kemerah-merahan menjadi kekuning-kuningan, sedang instar kedua berubah menjadi coklat tua. Nimfa instar ketiga, keempat dan kelima berubah dari kemerah-merahan menjadi coklat tua dan akhirnya menjadi hitam. Nirnfa instar pertama dan kedua sangat aktif  bergerak dan mencari makan; dalam keadaan kenyang beristirahat pada tempat-tempat yang tersembunyi . Nimfa instar ketiga, keempat dan kelima tidak seaktif instar pertama dan kedua . Instar keempat dan kelima sangat lambat gerakannya, dan lebih banyak beristirahat . Stadia nimfa berkisar antara 16-23 hari, dengan rata- rata 19 hari. Instar pertama 1-3 hari, instar kedua 2-4 hari, instar ketiga 2-6hari, instar keempat 3-6 hari dan instar kelima 5-8 hari. Rata-rata panjang tubuh nimfa instar I adalah 2,60 mm, instar II 4,20 mm, instar III 6 mm, instar IV 7 mm, dan instar V 9,90 mm (Tengkano dan Dunuyaali 1976 dalam Prayogo dan Suharsono, 2005). Nimfa maupun imago mampu menyebabkan kerusakan pada polong kedelai dengan cara mengisap cairan biji di dalam polong dengan menusukkan stiletnya. Tingkat kerusakan akibat Riptortus linearis bervariasi, bergantung pada tahap perkembangan polong dan biji. Tingkat kerusakan biji dipengaruhi pula oleh letak dan jumlah tusukan pada biji (Todd dan Turnipseed 1974 dalam Prayogo dan Suharsono, 2005).


Gambar 1. Hama pengisap polong kedelai Riptortus linearis; (a) imago, (b) telur, (c) nimfa instar I, dan (d) nimfa instar V (Prayogo dan Tengkano 2003, tidak diterbitkan dalam Prayogo dan Suharsono, 2003).

Gejala Serangan Riptortus linearis

Kepik menyerang dengan  cara menghisap polong sehingga menjadi kosong atau kempis (biji tidak terbentuk) dan polong muda akan gugur. Sedangkan polong tua yang diserang kepik ini menyebabkan biji keriput dan berbintik-bintik kecil berwarna hitam, selanjutnya biji tersebut akan membusuk (Puput, 2007).

Hama ini menyerang polong dan menghisap isinya. apabila polong yang diserang telah berisi akan tampak bintik-bintik hitam, dan jika polong tersebut terbuka akan tampak biji kehitam-hitaman, kosong, dan gepeng. pemberantasan kepik polong sama dengan penggerek polong. Oleh karena itu, pemberantasan penggerek polong berarti juga pemberantasan kepik. Pada polong muda menyebabkan biji kempis dan kadang-kadang polong gugur. Serangan yang terjadi pada fase pertumbuhan polong menyebabkan biji dan polong kempis, kemudian mengering. Serangan yang terjadi pada fase pengisian biji menyebabkan biji busuk dan menghitam. Serangan polong tua menyebabkan adanya bintik hitam pada biji.  Imago mulai datang di pertanaman sejak pembentukan bunga, Akibat serangannya menyebahkan biji dan polong kempis, polong gugur, biji menjadi busuk, berwarna hitam; kulit biji keriput, dan adanya bercak coklat pada kulit biji. Periode kritis tanaman terhadap serangan pengisap polong adalah stadia pengisian biji.

Riptortus linearis adalah kepik pengisap polong yang dominan di pertanaman kedelai dan dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 80% bila tidak dilakukan pengendalian. Selama ini petani menggunakan pestisida atau bahan kimia lainnya untuk mengatasi masalah tersebut. Namun pemakaian yang berlebihan akan mengakibatkan kerusakan pada lingkungan dan juga menjadikan produk tanaman berbahaya untuk dikonsumsi.
Pemanfaatan musuh alami hama pengisap polong, cendawan Entomopatogen Verticillium lecanii, sebagai bioinsektisida memiliki kelebihan selain membunuh nimfa dan kepik dewasa, juga efektif mengendalikan telur hama. Cendawan ini mudah dibiakkan secara massal dan aman bagi lingkungan.

Pengendaliannya , prinsip pengendalian hama secara terpadu atau PHT merupakan suatu cara pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan masih menjadi alternative utama dalam pengendalian hama kepik penghisap polong. Penggunaan pestisida merupakan alternative terakhir yang apabila serangan hama kepik hijau telah melampaui batas ambang kendali yaitu bila telah ditemukan kerusakan polong lebih dari 2% atau terdapat sepasang kepik dewasa per tanaman saat tanaman kedelai berumur lebih dari 45 hari setelah tanam. Adapun komponen pengendalian hama pengisap polong kedelai adalah dengan cara sebagai berikut :
• Tanam serempak dalam tidak lebih dari 10 hari.
• Pergiliran tanaman bukan inang.
• Pengumpulan kepik dewasa ataupun nimfa untuk dimusnahkan.
• Menjaga kebersihan lahan dari tanaman penganggu atau gulma.
• Menggunakan pestisida apabila serangan telah melampaui batas ambang kendali.





















III.    PENUTUP



Kesimpulan yang didapat dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Riptortus linearis disebut dengan kepik penghisap polong kedelai karena hama ini menyerang polong kedelai, dan sering juga disamakan dengan walang sangit.
2.    Kepik polong kedelai Riptortus linearis memiliki tipe metamorfosis paurometabola yaitu terdiri dari telur, nimfa, dan imago. Dengan tipe alat mulut serangga.
3.    Perbedaan antara imago jantan dan betina dapat terlihat pada bagian abdomen. Pada abdomen betina terdapat garis segitiga berwarna putih, sedangkan pada jantan hanya ada garis memanjang berwarna putih.
4.    Gejala serangannya menyebahkan biji dan polong kempis, polong gugur, biji menjadi busuk, berwarna hitam; kulit biji keriput, dan adanya bercak coklat pada kulit biji.
5.    Pengendalian hama ini selain dengan pestisida dapat menggunakan musuh alami yaitu cendawan Entomopatogen Verticillium lecanii.






















DAFTAR PUSTAKA


Prayogo, Yusmani dan Suharsono. 2005. Optimalisasi Pengendalian Hama Pengisap Polong Kedelai (Riptortus linearis) dengan Cendawan Entomopatogen Verticillium lecanii. Jurnal Litbang Pertanian 24 (4), 2005. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang.

Puput, 2007. Kepik Pengisap Polong (Riptortus linearis). http://hamautama.blogspot.com/2007_09_01_archive.html. Diunduh pada 24 November 2012

Wahyu, Anggraheni. 2010. Laporan Dasar Perlindungan Tanaman, Hama Penting Tanaman Utama. Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Malang.

0 komentar:

Posting Komentar

Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD