Selasa, 10 September 2013

Pendugaan Erosi






KONSERVASI TANAH DAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
(Laporan Akhir DAS kelas C)





Oleh
Kelompok 6

Rusdiyan Inantha        1014121165
Teti Maryenti              1014121179
Taufik mahfut             1014121178
Saede Nerotama          0914013158
Viani Restiana             1014121188



LABORATORIUM SURVEY TANAH DAN LINGKUNGAN
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013





I.        PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang

Konservasi tanah dan air merupakan upaya menempatkan setiap bidang
tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukanya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan
agar tidak terjadi kerusakan tanah. Konservasi tanah memiliki hubungan erat yang sangat erat dengan konservasi air. Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ketanah untuk pertanian seefisien mungkin, dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau (Arsyad, 2010).

Berdasarkan kedua hubungan ini maka tanggung jawab sektor pertanian dalam masalah air ada dua yaitu (1) memelihara jumlah, waktu aliran, dan kualitas air dan (2) mengoptimalkan manfaat air melalui penerapan cara-cara penggunaan air untuk pertanian yang efisien. Konsep pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai penyedia air berkualitas adalah upaya pengelolaan  Daerah Aliran Sungai (DAS) agar mampu memberikan manfaat bagi kehidupan manusia khususnya dalam hal bidang pertanian adalah ketersediaan air untuk kepentingan irigasi bagi tanaman.

Orifice merupakan salah satu komponen dari perangkat primer (primary device) untuk mengukur aliran dengan menggunakan prinsip mengubah kecepatan aliran, riilnya yaitu mengubah luasan yang dilalui aliran fluida tersebut (orifice).
Orifice adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengukur laju aliran volum atau massa fluida di dalam saluran yang tertutup (pipa) berdasarkan prinsip beda tekanan. Alat ini berupa plat tipis dengan gagang yang diapit diantara flens pipa. Fungsi dari gagang orifice adalah untuk memudahkan dalam proses pemasangan dan penggantian. Orifice termasuk alat ukur laju aliran dengan metode rintangan aliran (Obstruction Device). Karena geometrinya sederhana, biayanya rendah dan mudah dipasang atau diganti.

Tinggi permukaan air sungai yang terukur oleh alat ukur pemukaan air sungai, dalam istilah hidrologi disebut debit aliran sungai. Pengukurannya dilakukan tiap hari, atau dengan pengertian yang lain debit atau aliran sungai adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Dalam sistem satuan SI besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/dt).

Debit air adalah jumlah air yang mengalir dari suatu penampang tertentu (sungai/saluran/mata air) peratuan waktu (ltr/dtk, m3/dtk, dm3/dtk). Dengan mengetahui debit air suatu perairan kita dapat mengetahui jenis organisme apa saja yang hidup di suatu perairan tersebut atau yang tinggal dan memiliki habitat di perairan tersebut.

Apabila debit air disuatu perairan tinggi, maka dapat dipastikan bahwa organisme yang hidup di perairan tersebut adalah organisme perenang kuat karena dapat melawan arus dari perairan tersebut dan apabila debit suatu perairan tersebut rendah, maka organisme yang hidup di perairan tersebut adalah organisme yang membenamkan dirinya (tidak melawan arus). (Harnalin., 2010)

Debit aliran merupakan satuan untuk mendekati nilai-nilai hidrologis. Kemampuan debit air sangat diperlukan untuk mengetahui potensi sumber daya air disuatu aliran air. Debit air juga dapat dijadikan salah satu indikator untuk memonitor dan mengevaluasi neraca air disuatu kawasan melaui pendekatan potensi sumber daya air yang tersedia, sehingga dapat memelihara pengelolaan sumber daya air yang benar secara berkelanjutan dan lestari.
Erosi sebenarnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk, penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan, kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah. Bagaimanapun, praktik tata guna lahan yang maju dapat membatasi erosi, menggunakan teknik semisal terrace-building, praktik konservasi ladang dan penanaman pohon.
Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan memengaruhi kelancaran jalur pelayaran.
Erosi dalam jumlah tertentu sebenarnya merupakan kejadian yang alami, dan baik untuk ekosistem. Misalnya, kerikil secara berkala turun ke elevasi yang lebih rendah melalui angkutan air. erosi yang berlebih, tentunya dapat menyebabkan masalah, semisal dalam hal sedimentasi, kerusakan ekosistem dan kehilangan air secara serentak.
Banyaknya erosi tergantung berbagai faktor. Faktor Iklim, termasuk besarnya dan intensitas hujan / presipitasi, rata-rata dan rentang suhu, begitu pula musim, kecepatan angin, frekuensi badai. faktor geologi termasuk tipe sedimen, tipe batuan, porositas dan permeabilitasnya, kemiringn lahan. Faktor biologis termasuk tutupan vegetasi lahan,makhluk yang tinggal di lahan tersebut dan tata guna lahan ooleh manusia.

B.  Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari pratikum ini yaitu
1. Agar mahasiswa mengetahui tingkat erosi pada lahan masing-masing komoditas.
2. Untuk mengetahui prinsip hukum orifice yang berkaitan dengan ketersediaan air   
    melalui irigasi air yang diberikan pada tanaman.
3. Mengukur kecepatan aliran air di sungai irigasi Bataranila, Rajabasa








II.TINJAUAN PUSTAKA


Menurut Arsyad (2010), kecepatan aliran air adalah waktu yang dilalui oleh suatu titik pada aliran dalam menempuh jarak tertentu, dinyatakan dalam m detik-1. Kecepatan aliran fluida dipengaruhi luas penampang dan kecepatan aliranya. Laju aliran juga dikenal dengaan istilah debit air. Besarnya debit ditentukan oleh luas penampang dan kecepatan aliranya, yang dapat dinyatakan dengan persamaan :
Q=A.V
yang menyatakan Q adalah debit air (m3 detik-1 atau m3 per jam), A adalah luas penampang saluran air (m2), dan V adalah kecepatan aliran melalui penampang (m detik-1).
Orifice adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengukur laju aliran volum atau massa fluida di dalam saluran yang tertutup (pipa) berdasarkan prinsip beda tekanan. Orifice merupakan alat untuk mengukur laju aliran dengan prinsip beda tekanan atau disebut juga Bernoulli’s principle yang mengatakan bahwa terdapat hubungan antara tekanan fluida dan  kecepatan fuida. Jika kecepatan meningkat, tekanan akan menurun begitu pula sebaliknya.

Fluida yang mengalir melalui pipa ketika sampai pada orifice akan dipaksa untuk melewati lubang pada orifice. Hal itu menyebabkan terjadinya perubahan kecepatan dan tekanan. Titik dimana terjadi kecepatan maksimum dan tekanan minimum disebut vena contracta. Setelah melewati vena contracta kecepatan dan tekanan akan mengalami perubahan lagi. Dengan mengetahui perbedaan tekanan pada pipa normal dan tekanan pada vena contracta, laju aliran volume dan laju aliran massa dapat diperoleh dengan persamaan Bernoulli (Jurnal Teknologi, 2013).

Nilai H pada Orifice diukur dari titik tengah orifice ke permukaaan bebas. Ketinggian tersebut diasumsikan tetap konstan. Persamaan Bernoulli diaplikasikan dar permukaan bebas hingga ke bagian tengah vena kontrakta dengan tekanan atmosfer lokal dan data elevasi , mengabaikan hkehilangan yang terjadi diperoleh V= √ 2gh. Ini hanya kecepatan teoritis, karena kehilangan diantara titik permukaan bebas dan bagian tengah orifice diabaikan. Rasio dari kecepatan aktual (Va) dengan kecepatan teoritis (Vt) disebut dengan koefisien kecepatan (Cv) yaitu Cv = Va/Vt atau ditulis dengan Va = Cv √2gh. Aliran teoritis dari sebuah tangki besar yang melalui lubang relatif kecil dengan bias a pada kedalaman h di bawah permukaan bebas dapat dicari dengan prinsip dari kekekalan energi . Misalkan tangki terbuka ke atmosfer, tekanan pada permukaanbebas maupun pada lubang adalah atmosferik dandengan demikian persamaan Bernouli memberikan : h= v²/2g. V adalah kecepatanpengeluaran teoritis dan h adalah Z1 dan Z2 dalam persamaan Bernouli. Kecepatan pengeluaran sebenarnya adlah Q = Cd a √2gh. Cd didefenisikan sebagai koefiisien pengeluaran (Finnemore and Franzini, 2002).

Tinggi permukaan air sungai yang terukur oleh alat ukur pemukaan air sungai, dalam istilah hidrologi disebut debit aliran sungai. Pengukurannya dilakukan tiap hari, atau dengan pengertian yang lain debit atau aliran sungai adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Dalam sistem satuan SI besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/dt).

Debit air adalah jumlah air yang mengalir dari suatu penampang tertentu (sungai/saluran/mata air) peratuan waktu (ltr/dtk, m3/dtk, dm3/dtk). Dengan mengetahui debit air suatu perairan kita dapat mengetahui jenis organisme apa saja yang hidup di suatu perairan tersebut atau yang tinggal dan memiliki habitat di perairan tersebut.

Apabila debit air disuatu perairan tinggi, maka dapat dipastikan bahwa organisme yang hidup di perairan tersebut adalah organisme perenang kuat karena dapat melawan arus dari perairan tersebut dan apabila debit suatu perairan tersebut rendah, maka organisme yang hidup di perairan tersebut adalah organisme yang membenamkan dirinya (tidak melawan arus). (Harnalin., 2010)

Debit aliran merupakan satuan untuk mendekati nilai-nilai hidrologis. Kemampuan debit air sangat diperlukan untuk mengetahui potensi sumber daya air disuatu aliran air. Debit air juga dapat dijadikan salah satu indikator untuk memonitor dan mengevaluasi neraca air disuatu kawasan melaui pendekatan potensi sumber daya air yang tersedia, sehingga dapat memelihara pengelolaan sumber daya air yang benar secara berkelanjutan dan lestari.

Sungai mempunyai fungsi utama menampung curah hujan setelah ditinjau aliran permukaan (suface run off) dan mengalirkan sampai kelaut (menurut segi hidrologi).  Oleh karena itu, sungai dapat diartikan sebagia wadah atau penampung dan penyalur alamiah aliran air dengan segala benda yang terbawa dari daerah Aliran Sungai (DAS) ke tempat yang lebih rendah dan bermuara di lautan.  Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dipandang sebagai bagian dari permukaan bumi tempat air hujan menjadi aliran permukaan dan mengumpul ke sungai menjadi aliran sungai menuju ke suatu titik di sebelah hilir (down stream point) sebagia titik pengeluaran (catchment outlet) (Soewarno, 2000).

Aliran air sungai sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia.  Air yang berasal dari sungai telah digunakan untuk banyak kegiatan antara lain: pertanian, perhubungan, pertahanan negara dan sarana olah raga (renang, arung jeram, dan lain sebagainya).  Akan tetapi yang perlu diperhatikan jika dimanfaatkan sebagai sarana olah raga adalah kecepatan arus air di permukaan dan di bawah permukaan sungai, karena kecepatannya berbeda-beda.  Apabila hal tersebut diabaikan, maka akan membahayakan keselamatan jiwa manusia, sebab kecepatan arus air sungai yang di permukaan berbeda dengan kecepatan arus air sungai yang ada di bawah permukaan air (Priyantini, 2010).

Perubahan penampang basah dapat dengan mudah ditentukan langsung di
lapangan, kecepatan aliran juga merupakan unsur penting yang harus ditentukan
dengan pengukuran di lapangan. Keadaan aliran sungai yang perlu diketahui untuk mempelajari hidrometri antara lain:
(1) aliran seragam dan tidak seragam; (2) aliran aminar dan turbulen; (3) aliran tetap dan tidak tetap; dan (4) aliran lambat, kritis dan cepat (Asdak, 2007).

Arus merupakan gerakan yang mengalir dari suatu massa air yang disebabkan oleh desitas air lau, tiupan angin atau dapat pula disebabkan gerakan bergelombang panjang. Selanjutnya Sidjabat (1976), arus adalah pergerakan massa air secara horizontal yang disebabkan oleh angin yang bertiup terus menerus dipermukaan dan desitas air laut.Apabila diperhatikan arus ini pada bagian permukaan akan sulit untuk diramal kemana arah arus tersebut. 

Secara umum erosi dapat dikatakan sebagai proses terlepasnya butiran tanah dari induknya di suatu tempat dan terangkutnya material tersebut oleh gerakan air atau angin kemudian diikuti dengan pengendapan material yang terangkut di tempat yang lain (Suripin, 2002). Pada dasarnya erosi yang paling sering terjadi dengan tingkat produksi sedimen (sediment yield) paling besar adalah erosi permukaan (sheet erosion) jika dibandingkan dengan beberapa jenis erosi yang lain yakni erosi alur (rill erosion), erosi parit (gully erosion) dan erosi tebing sungai (stream bank erosion). Secara keseluruhan laju erosi yang terjadi disebabkan dan dipengaruhi oleh lima faktor diantaranya faktor iklim, struktur dan jenis tanah, vegetasi, topografi dan faktor pengelolaan tanah. Faktor iklim yang paling menentukan laju erosi adalah hujan yang dinyatakan dalam nilai indeks erosivitas hujan (Suripin, 2002).

Erosi adalah peristiwa berpindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian-bagian tanah pada suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian diendapkan ditempat lain. Pengikisan dan pengangkutan tanah tersebut terjadi oleh media alami, yaitu air dan angin (Sitanala, 2010).

Erosi oleh angin disebabkan oleh kekuatan angin, sedangkan erosi oleh air ditimbulkan oleh kekuatan air. Di daerah beriklim basah erosi oleh air yang lebih penting, sedangkan erosi oleh angin tidak begitu berarti. Erosi oleh angin merupakan peristiwa sangat penting di daerah beriklim kering. Indonesia adalah daerah tropika yang umumnya beriklim basah atau agak basah (Sitanala, 2010).
Dampak lainnya dari proses sedimentasi di sungai adalah terjadinya pengendapan sedimen di dasar sungai yang menyebabkan naiknya dasar sungai, kemudian menyebab-kan tingginya muka air sehingga berakibat sering terjadi banjir yang menimpa lahan-lahan yang tidak dilindungi. Erosi tanah tidak hanya berpengaruh negatif pada lahan dimana terjadi erosi, tetapi juga di daerah hilirnya dimana material sedimen diendap-kan. Banyak bangunan-bangunan sipil di daerah hilir akan terganggu, saluran-saluran, jalur navigasi air, waduk-waduk akan mengalami pengendapan sedimen. Disamping itu kandungan sedimen yang tinggi pada air sungai juga akan merugikan pada penyediaan air bersih yang bersumber dari air permukaan, biaya pengelolaan akan menjadi lebih mahal (Suripin, 2001).






III.             METODOLOGI PRAKTIKUM


A.  Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan selama praktikum ini yaitu sebgai berikut:
·      Orifase
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
Gelas aqua, botol aqua, penggaris, dan air.
·      Pengukuran debit air sungai
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah bola pingpong, tali rafia, meteran, dan stopwatch.
·      Pendugaan erosi
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah GPS
·      Limpasan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah bak ember, aqua gelas, batang kayu, shower dan tanah.

B.  Cara Kerja
· Orifase
  Cara kerja dalam praktikum ini adalah
1.      Penyiapan alat dan bahan
2.      Mengukur diameter lubang pada aqua
3.      Mengalirkan air keran kedalam botol sampai tinggi air konstan.
4.      Air yang keluar dari lubang ditampung dengan menggunakan gelas aqua sampai penuh dan dihitung waktu yang diperlukan air untuk memenuhi gelas aqua.
5.      Lakukan prosedur 2 dan 3 dengan menaikan tinggi air konstan dalam botol
dan setiap pengukuran tinggi muka air diulang sebanyak 3 kali. 
6.      Dicatat dan dihitung konstanta dalam lampiran.

·      Pengukuran debit air
Cara kerja pada praktikum kali ini adalah
1.      Diukur jarak antar sungai
2.      Ditarik tali sepanjang 5 meter
3.      Dilepaskan bola pingpong
4.      Dihitung waktu tempuh dengan stopwatch saat bola dilepaskan
5.      Dihentikan stopwatch ketika bola pingpong diposisi akhir tali rafia
6.      Dicatat waktu yang ditempuh

·      Pendugaan erosi
Cara kerja dalam praktikum ini adalah
1.      Melakukan pengamatan panjang lereng, kemiringan lereng, suhu, drainase, tekstur tanah, usaha konservasi dan koordinat.
2.      Menuliskan titik koordinat
3.      Melakukan perhitungan.





IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A.  Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan yang didapat dari praktikum ini yaitu:       

Ø  Orifase
Tabel 1. Hasil Pengamatan
Ketinggian Lubang Air pada Aqua Botol dan Waktu yang diPeroleh Selama Pengukuran
H1 (15,5 cm)
H2 (16,5 cm)
H3 (17,5 cm)
T1
T2
T3
T1
T2
T3
T1
T2
T3
20,88
20,47
20,52
16,15
15,97
16,06
12,60
12,64
12,34
Keterangan : H = Ketinggian lubang air pada aqua gelas (cm)
          T = Satuan waktu yang dibutuhkan (detik)

Ø  Pengukuran Debit Air
Berikut merupakan hasil pengamatan dalam mengukur debit air di aliran sungai

Ulangan
Jalur I (Kanan)
(Kedalaman 50 cm)
Jalur II (Tengah)
(Kedalaman 50 cm)
Jalur III (Kiri)
(Kedalaman 50 cm)
U1
18.39
22.72
16.73
U2
18.63
23.71
25.51
       U3
20.29
21.96
22.53
U4
18.81
23.53
18.63
U5
17.50
33.52
20.16
U6
15.75
24.43
19.35
U7
16.06
22.59
24.79
U8
16.83
27.18
28.98
       U9
16.92
22.17
21.69
U10
21.60
29.83
19.68
Rata-rata
18.08
25.16
21.80




Keterangan:
·         Lebar lintasan atas            : 260 cm
·         Lebar lintasan bawah        : 160 cm
·         Kedalaman                        : 50 cm

Ø  Pendugaan Erosi
1.      Koordinat I
S : 05o 24’51,6”
E : 105o11’25,3”
·         K.L = 30o
·         P.L = 40m
·         Luas ½ ha
·         Liat berdebu
·         Drainase jelek
·         Komoditas kakao dan pisang
·         Teknik konservasi vegetative

2.      Koordinat II
S : 05o24’50,8”
E : 105o11’24,6”
·         K.L = 45o
·         P.L = 45m
·         Luas 200m2
·         Liat
·         Drainase buruk
·         Komoditas jati dan talas
·         Vegetatif

3.      Koordinat III
S = 05o24’50,6”
E = 105o11’24,6”
·         60o
·         80m
·          125m2
·         Liat
·         Drainase buruk
·         Komoditas mahoni salak
·         Teknilk konservasi vegetative

4.      Koordinat IV
S = 05o24’50,6”
E = 105o11’24,6”
·         55o
·         30m
·         45m2
·         Liat
·         Draenasi buruk
·         Komoditas pisang singkong kakao
·         Teknik konservasi vegetative

5.      Koordinat V
S = 05o24,5’9”
E = 105o11’22,2”
·         75o
·         35m
·         90m2
·         Liat
·         Drainase buruk
·         Komoditas pisang kopi kakao
·         Teknik konservasi vegetative

6.      Koordinat VI
S = 05o24’49,2
E = 105o11’21,2”
·         Luas lahan 90m2
·         Liat
·         Drainase buruk
·         Komoditas cabai
Teknik konservasi vegetative

7.      Koordinat VII
S = 05o24’48,4
E = 105o11’23,6
·         Luas lahan 90m2
·         Liat
·         Drainase buruk
·         Komoditas cabai
Teknik konservasi vegetative


B.       Pembahasan

Prinsip hukum Orifice di gunakan sejak zaman Mesir Kuno untuk mengukur aliran system irigasinya, juga di gunakan pada zaman Kaisar Romawi untuk mengukur flow air yang menuju rumah penduduk. Dan pada abad ke-18 Bernoulli menetapkan hubungan antara tekanan dan kecepatan aliran, juga mempublikasikan venturi tube yang pertama. Orifice plate biasanya berbentuk lingkaran dengan lubang di tengahnya. Sudah barang tentu pembuatan orifice ini tidak sembarangan, ada perhitungan-perhitungannya (saat ini kita tidak membahas pembuatan plate orifice, ada software tersendiri untuk memudahkan perhitungan plate orifice). Orifice plate ini berfungsi untuk merubah kecepatan aliran/flow yang akan kita ukur, dimana kita ketahui perubahan kecepatan akan menyebabkan perubahan tekanan (artinya akan terjadi beda tekanan antara inlet dan outlet orifice).

Dalam dunia industri pengukuran flow (aliran suatu material) sangatlah penting dan kritikal.  Pengukuran flow yang paling banyak kita jumpai antara lain : pengukuran flow steam, flow air, flow natural gas, flow raw material, dan sebagainya. Pengukuran flow ini menjadi tambah penting jika menjadi suatu loop control pada DCS/PLC. Dan pengukuran flow juga sebagai dasar penentuan kapasitas suatu plant.  Metoda pengukuran flow ada banyak bermacam-macam, antara lain  yaitu Differential Pressure (pengukuran flow berdasarkan beda tekanan), antara lain : Orifice Plate, Venturi tube, Pitot tube, Rotameter.

Sejatinya fungsi utama orifice adalah membatasi aliran. Fungsi pembatasan tekanan dari orifice adalah merupakan konsekuensi dari relasi antara pressure drop dan flow drop. Fenomena choked flow sendiri adalah terjadinya mass flow rate yang konstan meskipun down stream pressurenya menurut akibat sonic velocity. Dalam aplikasi naiknya fungsi pembatasan aliran dan pembatasan tekanan sama-sama dpat diterapkan dengan menggunakan orifice. Dalam mempelajari aliran fluida seringkali digunakan asumsi bahwa fluida adalah ideal, tidak mempunyai kekentalan. Meskipun hal ini merupakan situasi ideal yang tidak pernah ada. Lubang orifice relatif kecil terhadap luas penampang tangki. Semakin kecil prifice dibandingkan dengan luas penampang tangki, maka semakin banyak kehilangan yang terjadi dalam aliran. Sebaliknya jika luas keduanya serupa maka kehilangan akan mendekati nol. Kehilangan yang terjadi ini adalah kehilangan  tenaga sehingga beberapa parameter aliran mengalami pengurangan. Hal ini dapat dilihat dari adanya koefisien debit , koefisien kecepatan dan sebagainya.
                                    
Aliran fluida dalam suatu pipa dapat diukur menggunakan teknik membaca perbedaan tekanan pada pipa tersebut, dimana untuk mendapatkan perbedaan tekanan pada suatu pipa tersebut dibuat dengan cara mengatur luas penampang pipa pada kedua ujungnya berbeda. Metoda pengukuran aliran fluida pada suatu pipa ini dapat dilakukan berdasarkan “Hukum Bernoulli”, dimana Hukum Bernoulli menyatakan hubungan tekanan fluida yang mengalir pada suatu pipa.

Pada prinsipnya percobaan ini adalah untuk menghitung waktu yang diperlukan air untuk dapat memenuhi volume air pada gelas aqua. Pada aplikasinya dilapang prinsip hukum orifice adalah berkaitan dengan pemberian suplai air pada tanaman yaitu dengan melalui air irigasi.

Daerah aliran sungai (DAS) dapat diartikan sebagai kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografis yang menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan yang jatuh di atasnya ke sungai yang akhirnya bermuara ke danau/laut (Asdak, 2007).

DAS merupakan ekosistem yang terdiri dari unsur utama vegetasi, tanah, air dan manusia dengan segala upaya yang dilakukan di dalamnya (Soeryono, 1979). Sebagai suatu ekosistem, di DAS terjadi interaksi antara faktor biotik dan fisik yang menggambarkan keseimbangan masukan dan keluran berupa erosi dan sedimentasi. Suatu wilayah daratan yang menampung, menyimpan kemudian mengalirkanair hujan ke laut atau danau melalui satu sungai utama atau Suatu daerah aliran sungai yang dipisahkan dengan daerah lain oleh pemisah topografis sehingga dapat dikatakan seluruh wilayah daratan terbagi atas beberapa DAS.

Unsur-unsur utama di dalam suatu DAS adalah sumberdaya alam (tanah, vegetasi dan air) yang merupakan sasaran dan manusia yang merupakan pengguna sumberdaya yang ada.) Unsur utama (sumberdaya alam dan manusia) di DAS membentuk suatu ekosistem dimana peristiwa yang terjadi pada suatu unsur akan mempengaruhi unsur lainnya.

Sungai yang merupakan ekosistem lotik, termasuk ekosistem terbuka yang secara alami mendapat masukan unsur hara terutama dari kikisan tanah sejak dari bagian hulu hingga hilir sungai.  Kecepatan arus pada ekosistem sungai merupakan faktor pembatas terpenting.  Kecepatan aliran sungai sendiri dipengaruhi oleh bentuk saluran sungai, kondisi permukaan saluran, ukuran saluran dan kemiringan saluran.  Perairan sungai berdasarkan kecepatan arusnya dapat dibedakan menjadi daerah arus cepat (rapid zone) dan daerah lubuk (pool zone).  Masing-masing daerah terssebut memiliki ciri-ciri kehidupan biota akuatiknya yang khas.

Menurut Soewarno (1995), debit air (discharge) atau besarnya aliran sungai (stream flow) adalah volume aliran yang mengalir melalui suatu penampang melintang sungai persatuan waktu.  Debit air sendiri biasanya danyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/detik) atau liter per detik (l/det).  Aliran adalah pergerakan air di dalam aliran sungai.

Ada beberapa cara mengukur debit air yaitu dengan Emboys Float Method dan metode Weir yang menggunakan papan bercelah.  Pemilihan lokasi debit air mempunyai beberapa syarat antara lain di bagian sungai yang relatif lurus, jauh dari pertemuan cabang sungai, tidak ada tumbuhan air, aliran tidak turbulen, aliran tidak melimpah melewati tebing sungai(Sihotang, Asmika dan Efawani, 2009)
Kedalaman menyatakan dimana letak dasar perairan, oleh karena itu menjadi suatu hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengukuran debit air. Semakin dalam perairan maka hasil pengamatan yang didapat jauh dari faktor arus berbentuk-bentuk (meander) atau arus turbulen. Kedalaman perairan adalah jarak vertical dari permukaan sampai ke dasar perairan yang biasanya dinyatakan dalam meter (Asdak, 2007).

Pada praktikum kali ini, dilakukan praktikum mengenai debit aliran sungai. Pengukuran ini menggunakan tali rafia dengan panjang 5 meter dan bola pingpong, tali rafi diuukur dengan meteran.  Pertama-tama, kedalaman diukur dengan tali rafia di bagian tepi kanan, tepi kiri dan tengah saluran irigasi.  Kemudian dilanjutkan dengan mengukur kecepatan arus dengan 10 kali ulangan di setiap bagian saluran.  Dilanjutkan dengan mengukur luas penampang dari saluran irigasi tersebut.

Faktor yang mempengaruhi pengukuran debit air dengan metode weir adalah angin.  Angin sangat berpengaruh besar terhadap cepat atau lambatnya bola ping-pong bergerak, apabila semakin kuat angin yang menghembus bola ping-pong maka semakin cepat pula bola pingpong bergerak dan juga kuatnya angin berhembus juga mempengaruhi arah gerak bola ping-pong mengikuti arah angin sehingga mengakibatkan jalannya bola pingpong tidak lurus dan jarak yang ditempuh bertambah karna berbelok – beloknya bola pingpong dan sebaliknya ketika hembusan angin tidak kuat maka gerak bola ping-pong yang dipengaruhi arus air menjadi lebih stabil. Permukaan saluran irigasi yang diamati tidak rata yang dapat dilihat dari tinggi permukaan saluran irigasi yang berbeda pada setiap bagian.  Kecepatan arus yang dihasilkan masing-masing bagian tepi juga menjadi salah satu faktor debit air yang tertampung dengan bagian tengah saluran lebih cepat bila dibandingkan dengan bagian tepi kanan atau kiri saluran.

Pada metode weir sesungguhnya dasar perairan berpengaruh juga terhadap nilai tinggi permukaan air karena dasar perairan yang berlumpur membuat kaki atau dasar papan bercelah (weir) akan terbenam beberapa centimeter yang mengakibatkan terjadi perubahan nilai tinggi permukaan air dan pada akhirnya nilai debit airpun ikut berubah.

Debit air adalah jumlah air yang mengalir dari suatu penampang tertentu (sungai/ saluran/ mata air) persatuan waktu (ltr/dtk, m3/dtk, dm3/dtk).Pada praktikum kali ini debit air yang dihitung berada pada saluran irigasi yang berada di Bataranila Rajabasa Raya, dimana menghitung kecepatan alirannya menggunakan metode bola apung dengan jarak tempuh 5 m2.

Dimana untuk mencari debit airnya digunakan rumus kecepatan:
v= r/t
Dimana v : kecepatan (m/s)
              r : jarak (m)
              t : waktu (s)

setelah didapatkan nilai v maka selanjutnya dihitung debit air nya (Q) menggunakan rumus:

Q = v/t
Dimana Q : debit air (L/m3)
               v : Kecepatan (m/s)
                t : waktu (s)

sehingga Tabel pengamatan menjadi:

Ulangan
Jalur I (Kanan)
(Kedalaman 50 cm)
Jalur II (Tengah)
(Kedalaman 50 cm)
Jalur III (Kiri)
(Kedalaman 50 cm)
U1
18.39
22.72
16.73
U2
18.63
23.71
25.51
       U3
20.29
21.96
22.53
U4
18.81
23.53
18.63
U5
17.50
33.52
20.16
U6
15.75
24.43
19.35
U7
16.06
22.59
24.79
U8
16.83
27.18
28.98
       U9
16.92
22.17
21.69
U10
21.60
29.83
19.68
Rata-rata
18.08
25.16
21.80
v
0.28
0.20
0.23
Q
0.015
0.008
0.011

Laju erosi di suatu daerah atau suatu lahan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti curah hujan, tata guna lahan, jenis tanah, cara pengelolaan lahan, jenis tanaman, kemiringan lereng dan panjang lereng. Berdasarkan data yang telah didapatkan kita dapat mengetahui tingkat erosi yang terjadi pada daerah yang digunakan sebagai objek pengamatan.

Dalam praktikum ini kita mengamati 7 titik koordinat yang memeiliki tingkat kemiringan yang berbeda-beda, dari data di atas kita dapat mengetahui ketinggian lereng yang terdapat dimasing-masing objek yang diamati, dengan data yang diperoleh diatas kita dapat memperhitungkan tingkat erosi yang dapat terjadi di daerah tersebut. Oleh karena itu kita harus dapat menanggulangi dampak-dampakk yang dapat menyebabkan erosi.

Faktor indeks topografi LPL dan SKL, masing-masing mewakili pengaruh panjang dan kemiringan lereng terhadap besarnya erosi dan aliran permukaan. Panjang lereng mengacu pada aliran permukaan, yaitu lokasi berlangsungnya erosi dari kemungkinan terjadinya deposisi sedimen, pada umumnya kemiringan lereng diperlakukan sebagai faktor yang seragam.

Untuk menghitung debit puncak maka dilakukan analisis hidrologi untuk menentukan curah hujan rencana dan data yang digunakan dalam analisis hidrologi ini adalah data curah hujan harian maksimum tahunan. Dalam analisis hujan rencana harus dilakukan perhitungan menentukan jenis sebaran data dilakukan analisis distribusi peluang dan berdasarkan hasil dari perhitungan parameter statistik diperoleh bahwa parameter statistik data curah hujan tidak sesuai untuk distribusi Normal, Log Normal dan Gumbel, sehingga data yang ada mengikuti tipe distribusi Log Pearson III.

Rancangan penggunaan lahan ditetapkan berdasarkan pada tiga faktor, yaitu kelerengan, jenis tanah menurut kepekaan terhadap erosi dan intensitas curah hujan harian wilayah bersangkutan, setiap komponen faktor ditampilkan dalam tiap unit lahan untuk mendapatkan angka skor yang secara makro dipergunakan untuk menetapkan rancangan penggunaan lahan sebagai kawasan lindung, kawasan penyangga, kawasan budidaya dan kawasan pemukiman.




                         
V.     KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang didapat dari praktikum ini yaitu sebagai berikut:
1.      Erosi merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitas manusia dalam tata guna lahan yang buruk.
2.      Hukum orifice berkaitan dengan ketersediaan unsur hara bagi tanaman yang bersifat konstan.
3.      Tujuan dari mengukur waktu yang diperlukan untuk memenuhi gelas akua adalah digunakan untuk menghitung konstanta orifice.
4.      Prinsip hukum orifice ini dilapang dapat ditemui dalam hal kegiatan irigasi pada budidaya tanaman.
5.      Faktor yang mempengaruhi pengukuran debit air sungai adalah kecepatan dari arus air sungai yang diamati pada saat praktikum
6.      Kelemahan dari praktikum yang telah dilaksanakan yaitu dalam mengukur debit air sungai yaitu adanya angin karena dapat mempengaruhi kecepatan bola pingpong sehingga pengukuran tidak akurat.
7.      Daerah aliran sungai merupakan wilayah daratan yang menampung dan menyimpan air hujan dan sumber sumber air lain untuk menyalurkan ke laut melalui sungai utama.
8.      Fungsi DAS dapat ditinjau dari dua sisi yaitu sisi ketersediaan (supply) yang mencakup kuantitas aliran sungai (debit), waktu, kualitas aliran sungai, dansisi permintaan (demand) yang mencakup tersedianya air bersih, tidak terjadinya bencana banjir, tanah longsor serta genangan lumpur Sulitnya mendapatkan air bersih merupakan faktor penentu utama kemiskinan dan buruknya kesehatan

9.      Erosi dalam jumlah tertentu sebenarnya merupakan kejadian yang alami, dan baik untuk ekosistem.
10.  Faktor iklim yang paling menentukan laju erosi adalah hujan yang dinyatakan dalam nilai indeks erosivitas hujan.
11.  Faktor indeks topografi LPL dan SKL, masing-masing mewakili pengaruh panjang dan kemiringan lereng terhadap besarnya erosi dan aliran permukaan.






DAFTRA PUSTAKA


Arsyad, 2010. Konservasi Air dan Tanah. IPB Press. Bogor. Hal. 98-102.

Asdak, Chay. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.

Arsyad, S. 2010. Konservasi Tanah Dan Air. IPB Press. Bogor. Edisi kedua. 470 hlm

Asdak, Chay. 2007. Hidrologi Pengalolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta.
             Gadjah Mada University Press.
                                                                                
Finnemore, E. J. and J. B. Franzini. 2002. Fluid Mechanics with Engineering                      Applications. Mc. Graw Hill, New York.

Harnalis, Asmika, C. Sihotang dan Efawani. 2010. Penuntun Praktikum
              Limnologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau. 33
              Hal (Tidak diterbitkan)

Harto, Sri. 2009. Penuntun Praktikum Limnologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu
              Kelautan UNRI : Pekanbaru. 28 hal.

Kartasapoetra, A.G. dan Sutedjo Mulyani. 1986. Teknologi Pengairan Pertanian.
              Jakarta. Bina Aksara.

Priyantini, Noor Yudha. 2010. Sistem Pengukuran Kecepatan Arus Air Sungai
              Berbasis Mikrokontroler AT89S8252. Malang. Universitas Islam Negeri
              Maulana Malik Ibrahim.

Sihotang,C. Asmika dan Efawani. 2006. Penuntun Praktikum Limnologi. Fakultas
              Perikanan dan Ilmu Kelautan UNRI : Pekanbaru. 28 hal.

Soewarno. 1995. Hidrologi Pengukuran dan Pengelolaan Data Aliran Sungai
             (Hidrometri). Penerbit “NOVA”. Bandung
Soemarto 1981, Hidrologi Jilid 1. Penerbit Nova Bandung

Suripin, 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Andi Offset. Yogyakarta.

Suripin. (2001), Pengaruh Sedimentasi Waduk Terhadap Keberlanjutan Pembangunan, Jurnal dan Pengembangan Keairan, No.1-Tahun 8-Juli 2001, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, 1-6.

Waluyo, Joko dan Sugiyanto. 2013. Jurnal Teknologi. Uji eksperimental orifice      multi lubang pada saluran berdiameter 50 mm. Vol. 6 no. 1. Hal. 39-47.








LAMPIRAN


Hukum Orifice
Diameter lubang = 0,7 cm
Tinggi lubang 1 =15,5 cm
Tinggi lubang 1 = 16,5 cm
Tinggi lubang 1 = 17,5 cm
Volume aqua = 140 ml
Ulangan 1
Waktu rata-rata = 0,006
Ulangan 2
Waktu rata-rata = 0,008

Ulangan 3
Waktu rata-rata = 0,01

Ulangan 1
10-4
Rata-rata = 10-4

Ulangan 2
10-3
Rata-rata = 10-3

Ulangan 3
10-3
Rata-rata = 10-3

Tabel Data Pendugaan Erosi


Komoditas
R
K
LS
C
P
A
Kakao, pisang



15463,01



0,4082
9,77334
0,4
0,04
987,02925
Jati, talas
21,75160
0,4
0,04
2196,73782
Mahoni, salak
49,73732
0,4
0,04
5023,07196
Singkong, pisang, kakao, tangkil
11,18474
0,1
0,04
282,39234
Pisang, kakao, kopi
50,28694
0,1
0,04
1269,64479
Cabai
0,52879
0,7
0,4
934,56239
Jagung
1,2412
0,7
0,75
4113,0890
LS =
X= Panjang Lereng
S= Kemiringan

1 komentar:

Please leave your comment and join this site :D 감사합니다. no spam please :DD