
( LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM )
Oleh :
Tety Maryenti
1014121179
LABORATORIUM BIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2010
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Percobaan : Analisis Vegetatif
Tanggal Percobaan : 26 November 2010
Tempat Percobaan : Laboratorium Biologi MIPA
Nama : Tety Maryenti
NPM : 1014121179
Fakultas : Pertanian
Jurusan : Agroekoteknologi
Kelompok : V (lima)
Bandar Lampung,30 November 2010
Mengetahui
Asisten Praktikum,
Gina Dania Pratami
0617021009
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu yang mempelajari hubungan antara organisme dengan lingkungannya baik biotic maupun abiotik disebut ekologi. Ekologi berhubungan erat dengan tingkatn organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu system yang menunjukkan kesatuan. Istilah habitat dan relung ( niche ) ekologi adalah 2 konsep yang pentig dalam mempelajari populasi, komunitas atau ekosistem.
Habitat suatu organisme, tidak lain adalah tempat organisme itu berada, atau sebagai alamat organisme itu di alam .Habitat suatu organisme bisa sangat luas dan sangat sempit. Suatu habitat merupakan kawasan fisik dengan batas yang jelas , dan dapat dihuni oleh banyak spesies. Relung adalah status atau peran dari suatu spesies di dalam habitat, komunitas, atau suatu ekosistemnya. Relung ini sangat tergantung pada adaptasi structural, respons fisiologis, dan perilaku organisme yang bersangkutan. Berbeda dengan habitat, relung bukanlah ruang fisik, tetapi suatu abstraksi yang mencangkup semua faktor kimia, fisika, fisiologis, dan biotik yang diperlukan untuk kelangsungan hidup organisme yang bersangkutan.
Sebagai deskripsi relung suatu organisme, maka kita harus mengetahui apa makanannya, siapa yang makan, home range (ruang jelajah), efeknya terhadap organisme lain dan faktor lainnya di seantero ekosistem. Adanya pengaruh timbal balik antar anggota komunitas dengan lingkungannya menyebabkan struktur komunitas akan mengalami perubahan dengan bertambahnya waktu. Dengan demikian, fisionomi suatu komunitas dan faktor-faktor aboitiknya akan membantu memahami fungsi masing-masing organisme penyusun komunitas biotic tersebut.
B. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Mengetahui macam-macam organisme penyusun suatu habitat.
2. Memperkirakan bentuk jaring-jaring makanan yang terbentuk.
3. Menghitung distribusi, frekuensi, dan dominasi spesies.
4. Menghitung nilai penting spesies.
5. Mengetahui pola kesesuaian jenis terhadap factor lingkungan yang ada, yang dinyatakan dengan nilai kerapatan.
6. Mengetahui pola penguasaan jenis terhadap factor lingkungan yang ada, yang dinyatakan dengan nilai nominasi.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Irwanto, 2007).
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada.Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).
Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penyusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan. Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan dalam 3 kategori, yaitu : (1) pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda; (2) menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal; (3) melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau beberapa faktor lingkungan.(Christopheros, 1993)
Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan. Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk model geometrikyang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan mempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis jenis dengan perubahan faktor lingkungan.(Michael, 1995)
Pada metode garis, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat. Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar.Sedangkan metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi. (Rohman, 2001).
III. METODEOLOGI PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah patok kayu, tali raffia, meteran, dan alat tulis.
B. Cara Kerja
1. Ukur tali rafia sesuai panjang petak yang akan diamati dengan menggunakan meteran.
2. Kemudian ukur petak 1x1, 3x3, 5x5, 10x10, dengan menggunakan meteran.
3. Pasang patok kayu pada petak 1x1, kemudian ikat patok kayu dengan menggunakan tali raffia yang telah tersedia, membentuk suatu persegi.
4. Lakukan hal yang sama pada petak 3x3, 5x5, 10x10 juga
5. Amati spesies yang terdapat pada setiap petak
6. Hitung jumlah individu masing-masing spesies dan tentukan frekuensi serta indeks kerapatan maisng-masing spesies.
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A Hasil Pengamatan
No Nama Daerah Nama Ilmiah Jumlah Keterangan Petak
1 Rumput Gajah
Alang-alang 20 Individu
10 Individu Sedikit
Sedikit 1 x 1
2 Acistasia
Rumput Gajah
Alang-alang 15 Individu
160 Individu
14 Individu Sedikit
Banyak sekali
Sedikit 3 x 3
3 Rumput Gajah
Acestesia
Spesies B
Spesies A 60 Individu
1 Individu
1 Individu
2 Individu Banyak
Sedikit sekali
Sedikit sekali
Sedikit sekali 5 x 5
4 Jambu
Ketepeng
Nangka
Spesies C
Spesies D
Acestesia
Rumput Gajah
Spesies E
Beringin
Palem 3 Individu
2 Individu
2 Individu
1 Individu
1 Individu
13 Individu
80 Individu
1 Individu
1 Individu
3 Individu Sedikit sekali
Sedikit sekali
Sedikit sekali
Sedikit sekali
Sedikit sekali
Sedikit
Banyak
Sedikit sekali
Sedikit sekali
Sedikit sekali 10 x 10
B Pembahasan
V. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah di lakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Terdapat 13 jenis vegetasi dari 4 lahan area pada taman belakang laboratorium biologi, setiap jenis vegetasi memiliki kerepatan, frekuensi, dominansi dan INP yang berbeda-beda
2. Rumput gajah bersifat dominan pada suatu area tertentu
3. Kerapatan vegetasi tertinggi terdapat pada Rumput Gajah
4. Analisis Vegetasi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pesatnya penyebaran suatu spesies pada suatu area pangamatan/penelitian. Sehingga dapat diketahui kerapata, frekuensi, dari spesies itu sendiri
5. Tanaman mampu menyebar dengan biji atau benih, angin, air, vektor (serangga),manusia dan alat-alat pertanian, yang memungkinkan menghasilkan kompetisi yang tinggi
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Arwin dan Pramudiyanti.2007.Penuntun Praktikum Biologi Umum. Bandar Lampung : Unila
Jalmo, Tri dan Arwin Achmad. 2002. Biologi Umum. Bandar Lampung : Unila
Tobin. 2005. Penuntun Praktikum Biologi Umum. FMIPA Universitas Lambung Mangkurat.Banjarbaru.
Kimball, J. W., 1983. Biologi,Jakarta:Erlangga.
Nasir, Mochamad, dkk. 1933. Panduan Praktikum Biologi Umum. Yogyakarta : Depdikbud.
Lovelles. A. R. 1997. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk daerah Tropik. PT Gramedia. Jakarta.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang: JICA.
Anonimous A.2010.http://id.Analisis Vegetasi.Jum’at 26 November.17.10
.
S.









makasih kakak :)
BalasHapus